GAGAL GINJAL! Perawat Dialisis: Peringatan soal Susu UHT MBG dan Risiko Jangka Panjangnya
Foto Pamflet Mengenai Bahaya Susu yang Biasa Disajikan di Dapur MBG (Akun thread @nursedigital.id)
Batas Gula Tambahan Harian Anak (Sekitar 24–25 Gram Atau 6 Sendok Teh Menurut Rujukan Kesehatan Internasional) & Menyatakan Bahwa Satu Kotak Susu Rasa Rata-Rata Mengandung 14–19 Gram Gula
Sigap News NTB | Nasional — Sebuah peringatan keras datang dari akun thread terverifikasi @nursedigital.id, seorang perawat hemodialisa berpengalaman, mengenai potensi risiko kesehatan yang berkaitan dengan konsumsi massal susu UHT rasa yang dipakai dalam program MBG. Ia menyorot kandungan gula pada produk rasa dan menautkannya pada risiko peningkatan diabetes tipe 2 serta komplikasi ginjal di masa depan.
Inti Peringatan: “Jalan Tol” Menuju Gagal Ginjal
Dalam unggahan utama, @nursedigital.id menulis:

Foto Postingan Thread Mengenai Bahaya Susu UHT MBG pada 4 Januari 2026 (Dok. Pribadi)
“GUE PERAWAT HEMODIALISA. DAN JUJUR, GUE MERINDING LIAT BERITA 'SUSU' MBG AKHIR-AKHIR INI... INI BUKAN MAKAN BERGIZI, INI 'DIABETES SUBSIDI'!... Lo mau nyetak generasi cerdas, atau mau nyetak generasi yang umur 20 tahun udah antre cuci darah?”, tulis akun @nursedigital.id.
Dalam komentar lanjutan pada 11 Januari 2026, akun tersebut menguraikan dua poin utama: batas gula harian yang direkomendasikan untuk anak-anak dan estimasi kandungan gula per kotak susu rasa yang viral. Lalu menjelaskan bagaimana paparan gula berulang dapat memicu resistensi insulin, diabetes tipe 2, dan pada akhirnya nefropati diabetik (kerusakan ginjal).
Data Gula dan Logika Kesehatan yang Dikemukakan
Akun tersebut merujuk rekomendasi batas gula tambahan harian anak (sekitar 24–25 gram atau 6 sendok teh menurut rujukan kesehatan internasional) dan menyatakan bahwa satu kotak susu rasa rata-rata mengandung 14–19 gram gula. Dengan perhitungan sederhana, sekali minum pada pagi hari dapat menyerap sebagian besar kuota gula harian anak, ditambah asupan gula lain sepanjang hari (nasi, camilan, minuman manis), sehingga menimbulkan beban glukosa yang berulang.
Penjelasan profesional dari sudut pandang perawat hemodialisa ini menekankan aspek fisiologis: pankreas anak yang terus didorong menghasilkan insulin dapat mengalami penurunan sensitivitas (insulin resistance), yang berkontribusi pada berkembangnya diabetes tipe 2 pada usia muda. Diabetes merupakan faktor risiko utama terjadinya nefropati diabetik yang dapat berujung pada kebutuhan terapi penggantian ginjal.
Reaksi Publik: Dukungan, Kekhawatiran, dan Klaim Tidak Berdasar
Unggahan tersebut memicu beragam reaksi di kolom komentar:
- Beberapa pengguna menyatakan dukungan dan mengapresiasi upaya pembicaraan soal gizi anak.
- Sejumlah pelaku usaha dan orang tua mempertanyakan komposisi produk MBG, menyebutkan variasi kualitas antar merek dan proporsi susu asli dalam produk yang didistribusikan.
- Ada pula komentar yang menyebutkan faktor pola hidup (kurang aktivitas, hidrasi kurang) sebagai penyebab yang ikut berperan.
- Di sisi lainnya, muncul klaim-klaim tidak berdasar yang mengaitkan masalah ginjal dengan vaksinasi; klaim semacam ini membutuhkan verifikasi ilmiah dan tidak boleh dijadikan rujukan tanpa bukti kuat.
Komentar-komentar tersebut mencerminkan adanya kekhawatiran sahih tentang gizi dan pemasokan produk dalam program besar, sekaligus menunjukkan potensi misinformasi yang perlu diluruskan oleh otoritas kesehatan.
Implikasi Program dan Rekomendasi Praktis
Berdasarkan isi thread dan argumen profesional yang disampaikan, beberapa rekomendasi praktis yang layak dipertimbangkan adalah:
- Periksa label produk dengan memperhatikan jumlah gula pada setiap kemasan sebelum diberikan ke anak.
- Libatkan ahli gizi dalam desain dan pengadaan produk untuk program pemberian makanan/minuman anak agar pilihan benar-benar memenuhi kebutuhan gizi, bukan sekadar energi bersumber gula.
- Kampanye edukasi pola hidup sehat dengan menyeimbangkan antara pengaturan asupan gula, aktivitas fisik, dan hidrasi agar risiko jangka panjang dapat diminimalkan.
- Pemantauan kesehatan jangka panjang pada program berskala besar untuk menilai dampak nutrisi terhadap populasi anak.
Penutup: Peringatan Profesional, Bukan Kesimpulan Final
Pernyataan dari akun perawat hemodialisa itu merupakan peringatan profesional yang menyorot risiko pola konsumsi berulang minuman bergula pada anak. Argumen yang disampaikan mengenai batas gula harian, kontribusi produk rasa terhadap asupan gula, dan hubungan antara gula berlebih → diabetes → komplikasi ginjal. Hal ini layak menjadi bahan pertimbangan bagi orang tua, pelaksana program, dan pembuat kebijakan.
Namun demikian, untuk menyatakan hubungan kausal langsung antara satu produk MBG tertentu dengan peningkatan gagal ginjal pada populasi diperlukan studi epidemiologis dan data pemantauan jangka panjang. Sementara itu, kewaspadaan terhadap asupan gula pada anak dan keterlibatan ahli gizi dalam program pemberian makanan/minuman tetap merupakan langkah pencegahan yang rasional dan patut segera diupayakan.
Editor :M Amin