Puskesmas Wanasaba Bentuk Tim SBM di 8 Desa, Targetkan Deteksi Penyakit Sebelum Jadi KLB
Foto Suasana Kegiatan Pertemuan Penguatan Pelaksanaan Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) yang digelar di Aula Puskesmas Wanasaba, Selasa (29/9/2026) (Dok. Istimewa)
Kepala Puskesmas Wanasaba, Budiman, SKM., M.Kes: "Surveilans Berbasis Masyarakat Bukan Hanya Menjadi Tanggung Jawab Petugas Kesehatan, Tetapi Membutuhkan Keterlibatan Seluruh Elemen Masyarakat. Kami Berharap Para Relawan SBM Dapat Aktif Menyampaikan Setiap Informasi Atau Rumor Mengenai Penyakit Yang Berpotensi Menjadi KLB Atau Wabah. Setiap Laporan Akan Menjadi Bahan Bagi Petugas Untuk Dilakukan Verifikasi Dan Penyelidikan Epidemiologi. Prinsipnya, Jangan Menunggu Kasus Menjadi Banyak Baru Kita Bergerak"
Sigap News NTB | Lotim — Upaya mencegah munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) maupun wabah penyakit terus diperkuat di tingkat masyarakat. Salah satunya melalui penguatan Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) di wilayah kerja Puskesmas Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur.
Penguatan tersebut dibahas dalam Pertemuan Penguatan Pelaksanaan Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) yang digelar di Aula Puskesmas Wanasaba, Selasa (29/9/2026).
Pertemuan berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 12.15 WITA dan melibatkan unsur lintas sektor serta perwakilan masyarakat dari seluruh desa di wilayah kerja Puskesmas Wanasaba.
Deteksi Dini Berawal dari Masyarakat
SBM merupakan salah satu strategi penting dalam membangun sistem kewaspadaan kesehatan yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Berdasarkan Permenko PMK Nomor 7 Tahun 2022, Surveilans Berbasis Masyarakat merupakan kegiatan pengamatan, pelaporan, dan respons dini yang dilakukan masyarakat secara terus-menerus dan sistematis terhadap gejala penyakit maupun faktor risiko yang dapat menjadi tanda munculnya permasalahan kesehatan di masyarakat.
Penguatan SBM juga memiliki landasan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, khususnya Pasal 395.
Dalam ketentuan tersebut, setiap orang yang mengetahui adanya orang sakit atau diduga sakit akibat penyakit maupun masalah kesehatan yang berpotensi menimbulkan KLB atau wabah wajib segera melaporkannya kepada aparatur pemerintahan desa/kelurahan dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Selanjutnya, aparatur pemerintahan desa/kelurahan maupun fasilitas pelayanan kesehatan yang menerima laporan tersebut wajib meneruskannya kepada perangkat daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan setempat.
Jangan Menunggu Kasus Meluas
Penguatan SBM dinilai penting karena kasus penyakit berpotensi KLB atau wabah sering kali baru diketahui setelah jumlah penderita meningkat di masyarakat.
Keterlambatan deteksi dapat membuat proses penanganan menjadi lebih kompleks karena penyakit yang sama sudah menyebar dan diderita oleh banyak orang.
Karena itu, masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima layanan kesehatan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam sistem kewaspadaan dini.
Masyarakat diharapkan aktif menyampaikan informasi mengenai penyakit atau gejala yang banyak ditemukan di lingkungan sekitarnya kepada Relawan SBM.
Relawan tersebut kemudian menyampaikan laporan kepada supervisor atau petugas kesehatan terdekat, seperti Pustu, maupun langsung kepada petugas surveilans Puskesmas Wanasaba.
Laporan Relawan Menjadi Sinyal Awal
Dalam mekanisme SBM, laporan yang disampaikan masyarakat maupun relawan merupakan rumor yang masih harus diverifikasi oleh petugas surveilans.
Petugas kemudian melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap laporan tersebut untuk memastikan kebenaran informasi, mengetahui kondisi kasus, serta mengidentifikasi faktor risiko yang mungkin berkaitan.
Hasil penyelidikan epidemiologi selanjutnya menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan.
Dengan mekanisme tersebut, informasi dari masyarakat dapat menjadi sinyal awal bagi petugas kesehatan untuk melakukan tindakan sebelum persoalan berkembang menjadi KLB atau wabah.
Libatkan Kader hingga Tokoh Masyarakat
Pelaksanaan SBM membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat.
Relawan SBM dapat berasal dari unsur kader kesehatan, karang taruna, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga organisasi intra sekolah seperti OSIS dan Pramuka.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan memperluas jangkauan pengamatan terhadap kondisi kesehatan masyarakat, mengingat mereka berada dan berinteraksi langsung dengan lingkungan masing-masing.
Dengan demikian, informasi mengenai potensi masalah kesehatan tidak hanya bergantung pada laporan fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga dapat diperoleh dari masyarakat sebagai sumber informasi awal.
Tiga Sasaran Utama SBM
Pertemuan penguatan SBM di wilayah kerja Puskesmas Wanasaba diarahkan untuk mencapai tiga tujuan utama.
Pertama, melakukan deteksi dini terhadap penyakit serta faktor risikonya.
Kedua, mendorong respons cepat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan, sehingga potensi KLB dapat dicegah sedini mungkin.
Ketiga, menyediakan data dan informasi kesehatan yang bersumber dari masyarakat sebagai bahan dasar pengambilan keputusan dalam perencanaan, pengendalian penyakit berpotensi KLB, serta monitoring dan evaluasi program kesehatan di wilayah tersebut.
Libatkan Lintas Sektor
Pertemuan tersebut turut melibatkan sejumlah unsur lintas sektor dan perwakilan masyarakat.
Peserta terdiri atas Camat Wanasaba, Kapolsek Wanasaba, Danposramil Wanasaba, Kepala UPTD Dikpora Kecamatan Wanasaba, Kepala UPTD Puskeswan Kecamatan Wanasaba, delapan kepala desa di wilayah kerja Puskesmas Wanasaba, serta delapan ketua kader dari masing-masing desa.
Keterlibatan lintas sektor tersebut menjadi bagian penting dalam membangun koordinasi ketika ditemukan informasi maupun kasus penyakit yang berpotensi berkembang menjadi KLB atau wabah.
Puskesmas Siapkan Respons Cepat
Kepala Puskesmas Wanasaba, Budiman, SKM., M.Kes, menekankan pentingnya membangun sistem kewaspadaan kesehatan yang dimulai dari masyarakat.
“Surveilans Berbasis Masyarakat bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Semakin cepat informasi mengenai adanya penyakit atau faktor risiko diterima, semakin cepat pula petugas dapat melakukan verifikasi dan menentukan langkah penanganannya,” ungkap Kapus Budiman.
Menurutnya, masyarakat memiliki posisi strategis karena menjadi pihak yang paling dekat dengan berbagai kejadian kesehatan di lingkungannya.
“Kami berharap para relawan SBM dapat aktif menyampaikan setiap informasi atau rumor mengenai penyakit yang berpotensi menjadi KLB atau wabah. Setiap laporan akan menjadi bahan bagi petugas untuk dilakukan verifikasi dan penyelidikan epidemiologi. Prinsipnya, jangan menunggu kasus menjadi banyak baru kita bergerak,” ujarnya.
Delapan Desa Siapkan Tim SBM
Sebagai tindak lanjut pertemuan, setiap desa di wilayah kerja Puskesmas Wanasaba berkomitmen untuk membentuk Tim SBM melalui Surat Keputusan (SK) masing-masing desa.
Setiap unsur yang tergabung dalam Tim SBM juga didorong untuk lebih aktif melakukan deteksi dini terhadap penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB atau wabah di lingkungan sekitarnya.
Sementara itu, Puskesmas Wanasaba berkomitmen memberikan respons cepat terhadap setiap laporan yang masuk dari relawan SBM.
Tidak berhenti pada penanganan internal, Puskesmas juga akan menyampaikan hasil penyelidikan epidemiologi atas laporan relawan kepada lintas sektor di tingkat kecamatan.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat koordinasi sehingga informasi mengenai kondisi penyakit dan penanganannya dapat segera diketahui serta ditindaklanjuti oleh sektor terkait.
Membangun Benteng Kesehatan dari Desa
Penguatan SBM pada akhirnya bukan sekadar membangun mekanisme pelaporan, melainkan membangun benteng kewaspadaan kesehatan dari tingkat paling dekat dengan masyarakat.
Ketika masyarakat mampu mengenali gejala, berani melaporkan, relawan aktif bergerak, petugas cepat melakukan verifikasi, dan lintas sektor mampu berkoordinasi, maka potensi ancaman penyakit dapat diantisipasi lebih awal.
Semangat inilah yang menjadi salah satu fondasi penguatan SBM di wilayah kerja Puskesmas Wanasaba: mendeteksi lebih cepat, merespons lebih sigap, dan mencegah penyakit berkembang menjadi KLB maupun wabah.
Editor :M Amin