Ompreng MBG Disorot, Benarkah Bisa Picu Gangguan Ingatan? Analisa Bahaya SS 201 & Sambal Lombok
Foto Kondisi Ompreng MBG Berkualitas Rendah Yang Mengalami Korosi (Hamdan Syahrul Muharam, Duta Keracunan Gen-Z/ @mr.hams17); Foto M. Aminullah, S.Si Selaku Penulis (Dok. Istimewa)
Desk Research oleh M. Aminullah, S.Si., Ex. Pj. Ketum UKM Penalaran & Riset Ilmiah Mahasiswa Universitas Mataram, Peraih Hibah Riset UKM-P Dirjen Dikti, Finalis Sang Penemu LPP TVRI NTB, Finalis Science Project PERTAMINA R8, Finalis i-STEP IPB 2011
Sigap News NTB | Nasional — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirancang sebagai ikhtiar besar untuk meningkatkan kualitas gizi generasi muda. Namun, di balik seporsi makanan yang dibagikan kepada para pelajar, terdapat satu persoalan yang tak boleh dianggap remeh: keamanan pangan.
Sorotan terhadap keamanan MBG kembali menguat setelah muncul berbagai kasus dugaan keracunan yang melibatkan pelajar di sejumlah daerah. Persoalannya bukan hanya menyangkut bahan makanan, proses memasak, penyimpanan, dan distribusi, tetapi juga wadah atau ompreng yang bersentuhan langsung dengan makanan.
Terlebih, menu MBG di sejumlah tempat mulai menggunakan makanan bercita rasa pedas. Padahal, makanan pedas seperti sambal umumnya juga mengandung unsur asam dan garam yang dalam kondisi tertentu dapat mempercepat korosi pada material stainless steel berkualitas rendah.
Pertanyaan besarnya kemudian muncul: seberapa aman sebenarnya ompreng yang digunakan untuk menyajikan makanan kepada Penerima Manfaat?
Keracunan MBG, Masalah Keamanan Pangan Kembali Disorot
Dilansir dari website resmi UGM, Kampus Top 2 Indonesia ini sebelumnya menyoroti persoalan keracunan makanan dalam program MBG. Guru Besar Mikrobiologi Klinik FK-KMK UGM, Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D., Sp.MK(K), menjelaskan bahwa keracunan makanan dan alergi merupakan dua kondisi yang berbeda, pada 9 Oktober 2025 lalu. (1)
Alergi merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap makanan tertentu. Bahkan dalam jumlah kecil, makanan pemicu alergi dapat menyebabkan biduran, pembengkakan saluran pernapasan, gangguan pencernaan, hingga anafilaksis.
Sementara itu, keracunan makanan terjadi akibat masuknya kuman atau zat berbahaya melalui makanan maupun minuman yang dikonsumsi.
“Keracunan makanan biasanya menimbulkan gejala seperti sakit perut, muntah, dan diare, yang muncul beberapa jam hingga hari setelah mengonsumsi makanan tersebut,” jelas Profesor Tri.
Menurutnya, bakteri seperti Salmonella dan Escherichia coli (E. coli) memiliki mekanisme berbeda dalam menyebabkan penyakit.
Salmonella patogenik dapat bertahan dari asam lambung kemudian menyerang mukosa usus dan memicu peradangan. Sementara Shiga toxin-producing E. coli (STEC) dapat menyebabkan penyakit bawaan makanan yang serius.
“Meskipun gejalanya mirip, mekanisme penyebabnya berbeda-beda tergantung jenis bakterinya,” ungkapnya.
UGM juga mencatat persoalan keracunan MBG telah menjadi perhatian serius. Dalam laporan April 2026, UGM mengutip data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang menyebut sedikitnya 33.626 pelajar mengalami keracunan yang diduga berkaitan dengan MBG sejak awal 2025 hingga April 2026. (1)
Adapun menurut data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), jumlah korban keracunan program MBG telah menembus 43.838 orang yang tersebar di 36 provinsi. Tingginya data ini, setelah adanya keracunan massal berturut-turut kembali pecah di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dan Kabupaten Lombok Tengah - NTB. Di Pati, Pemkab setempat secara resmi telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) setelah total korban membengkak hingga 424 orang yang terdiri dari ratusan siswa SMP, MTs, hingga balita peserta Posyandu. Sementara di Loteng, sebanyak 352 siswa dari lima sekolah di Kecamatan Batukliang dilarikan ke empat puskesmas usai menyantap menu hidangan MBG berupa kebab ayam. (2)
Bukan Sekadar Soal Makanan, Ompreng Juga Harus Aman
Keamanan pangan tidak berhenti pada bahan makanan.
Wadah yang bersentuhan langsung dengan nasi, lauk, kuah, maupun sambal juga harus memenuhi standar yang sesuai.
Dilansir dari website MUI, Auditor Halal LPPOM, Prof. Dr. Nugraha Edi Suryatma, menyatakan stainless steel yang digunakan untuk wadah makanan seharusnya memiliki mutu 304 atau 316 karena tergolong food grade, tahan karat, dan relatif stabil ketika bersentuhan dengan makanan, termasuk makanan yang bersifat asam. (3)
Sebaliknya, stainless steel tipe 201 yang lebih murah memiliki ketahanan korosi yang lebih rendah.
“Termasuk makanan yang bersifat asam. Namun, stainless steel tipe 201 yang lebih murah sering kali dipilih sebagai alternatif. Penggunaan stainless steel 201 berisiko menimbulkan masalah kesehatan,” tegas Prof. Nugraha.
Menurutnya, stainless steel 201 lebih rentan mengalami korosi ketika bersentuhan dengan bahan asam seperti saus tomat, cuka, atau buah-buahan.
Korosi tersebut, dalam kondisi tertentu, dapat memicu pelepasan unsur logam seperti mangan, nikel, maupun kromium ke dalam makanan.
“Jika kadarnya berlebih, logam tersebut dapat menimbulkan risiko kesehatan, seperti gangguan saraf, hati, ginjal, hingga sistem pernapasan. Oleh karena itu, pemilihan stainless steel grade tinggi yang benar-benar food grade merupakan hal yang tidak bisa ditawar,” tegasnya.
Ketika Sambal Bertemu Ompreng Berkualitas Rendah
Persoalan ini menjadi semakin menarik jika dikaitkan dengan karakter makanan yang dikonsumsi.
Dalam budaya kuliner Lombok, makanan pedas bukan sesuatu yang asing. Sambal bahkan menjadi bagian penting dari banyak menu masyarakat.
Namun, sambal umumnya tidak hanya mengandung cabai. Dalam pengolahannya kerap terdapat garam serta bahan yang bersifat asam seperti jeruk nipis atau cuka.
Kombinasi asam, garam, kelembapan, suhu, dan waktu kontak dapat menjadi lingkungan yang lebih agresif terhadap material stainless steel berkualitas rendah.
Artinya, persoalannya bukan semata-mata karena makanan itu pedas.
Yang menjadi perhatian adalah karakter kimia makanan dan kualitas material wadah yang digunakan.
Stainless steel 304 dan 316 mempunyai lapisan pasif kromium oksida yang membuat material tersebut lebih tahan terhadap korosi. Sementara stainless steel 201 memiliki karakteristik ketahanan korosi yang lebih rendah.
Karena itu, penggunaan wadah berkualitas rendah secara berulang, terlebih untuk makanan panas, berkuah, asin atau asam, patut mendapat perhatian serius.
Ompreng Rp70 Ribuan dan Pengalaman yang Viral
Perhatian publik terhadap persoalan ini juga dipicu oleh utas Hamdan Syahrul Muharam pada Sabtu (11/9/2026), yang mengaku mengalami gangguan kesehatan setelah menggunakan sendiri kotak makan stainless steel murah untuk membawa bekal ke kantor.
Dalam utasnya, Hamdan mengaku menggunakan wadah tersebut selama berbulan-bulan untuk menyimpan nasi, lauk, sambal, dan sayur asem.
Ia kemudian mengaku menemukan perubahan pada wadah serta merasakan rasa logam pada makanan.
Dalam ceritanya, ia melakukan sejumlah pengujian sederhana terhadap wadah yang digunakan dan menduga material tersebut merupakan stainless steel 201.
Hamdan kemudian membagikan pengalamannya sebagai peringatan kepada masyarakat.
“PELAJARANNYA: JANGAN HEMAT DI TEMPAT YANG MASUK KE TUBUH. Mending sekali beli yang bener, daripada murah tapi 6 bulan + resiko,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Namun, pengalaman pribadi tersebut tidak dapat dijadikan bukti medis bahwa stainless steel 201 pasti menyebabkan gejala kesehatan tertentu pada setiap orang.
Begitu pula pengujian rumahan seperti tes magnet, lemon, maupun cairan tertentu tidak semestinya dianggap sebagai pengganti pengujian laboratorium atau sertifikasi material.
Benarkah Ompreng Bisa Bikin Hilang Ingatan? Ini Penjelasan Dokter
Pertanyaan yang jauh lebih serius muncul setelah publik dihebohkan kasus seorang siswi berusia 16 tahun di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang mengalami gangguan ingatan setelah diduga mengalami keracunan makanan MBG, berdasarkan publikasi Media Detik dot com, pada 10 September 2026 lalu. (4)
Siswi SMK Bersama Berastagi bernama FP tersebut dilaporkan menjadi salah satu dari ratusan pelajar yang mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap MBG pada pertengahan Agustus 2026 lalu.
Menurut keterangan keluarga, kemampuan mengingatnya disebut mengalami penurunan hingga sekitar 70 persen. Ia bahkan sempat tidak mengenali anggota keluarga maupun orang-orang terdekatnya.
Namun, penting dicatat, angka 70 persen tersebut merupakan keterangan keluarga dan bukan hasil pemeriksaan kognitif yang telah diumumkan tim medis.
Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Neurologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Wahyu Wihartono, M.Kes., Sp.N., FMIN., menjelaskan bahwa toksin tertentu akibat keracunan makanan memang secara medis dapat memengaruhi fungsi otak dan sistem saraf.
“Intoksikasi akibat keracunan makanan memang dapat menyebabkan gangguan fungsi otak. Toksin dapat memengaruhi fungsi neurotransmiter sehingga mengganggu kerja sel-sel otak. Kondisi tersebut dapat menimbulkan gangguan kognitif, termasuk gangguan daya ingat,” kata Wahyu.
Akan tetapi, dokter UMY tersebut juga memberikan catatan penting.
Gangguan neurologis setelah keracunan tidak otomatis berarti disebabkan langsung oleh toksin. Faktor lain seperti kekurangan oksigen, gangguan metabolik, hingga kejang berkepanjangan juga dapat memengaruhi fungsi sel saraf.
Karena itu, penyebab gangguan pada setiap pasien harus diperiksa secara menyeluruh.
Dengan demikian, tidak tepat jika muncul kesimpulan sederhana bahwa “terkena sambal dari ompreng abal-abal pasti menyebabkan hilang ingatan.”
Yang benar adalah: jenis toksin tertentu memang berpotensi mengganggu fungsi otak, tetapi hubungan antara kasus tertentu dengan makanan, wadah, atau bahan tertentu harus dibuktikan melalui pemeriksaan medis dan laboratorium. (4)
Kepala SPPG: Menu Pedas Justru Dibuat Agar Makanan Tak Tersisa
Persoalan penggunaan sambal dalam menu MBG menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan pengalaman salah satu Kepala SPPG di Pulau Lombok.
Kepada Sigap News NTB, ia mengungkapkan bahwa perubahan cita rasa menu dilakukan setelah mendapatkan masukan dari penerima manfaat.
“Dulu kami menu MBG-nya tidak pedas. Namun makanan MBG-nya banyak yang tersisa. Atas dasar masukan dari Penerima Manfaat (PM), maka kami buat menu MBG-nya menjadi pedas. Alhamdulillah kini, sudah tidak ada nasi atau makanan MBG yang tersisa. Semuanya langsung habis,” ungkapnya pada 18 Agustus 2026 lalu.
Pernyataan tersebut menunjukkan adanya dilema tersendiri.
Di satu sisi, makanan yang sesuai selera penerima manfaat dapat meningkatkan konsumsi dan mengurangi makanan terbuang.
Di sisi lain, ketika menu melibatkan sambal, makanan asam, asin, atau berkuah, maka aspek keamanan material wadah dan lama kontak dengan makanan juga harus diperhitungkan.
Jangan sampai makanan habis karena disukai, tetapi keamanan wadah justru luput diawasi.
Pertolongan Pertama Jika Siswa Mengalami Keracunan
Prof. Tri Wibawa mengingatkan bahwa muntah dan diare dapat menyebabkan kehilangan cairan serta elektrolit dalam jumlah cukup besar. (1)
Karena itu, pertolongan pertama yang penting adalah mengganti cairan dan elektrolit yang hilang untuk mencegah dehidrasi.
“Muntah dan diare dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit. Langkah paling penting dalam pertolongan pertama adalah mengganti cairan dan elektrolit yang hilang untuk mencegah dehidrasi,” ujarnya.
Penderita dapat diberikan air putih atau cairan yang mengandung elektrolit. Jika masih muntah, cairan diberikan sedikit demi sedikit.
“Jika muntah masih terjadi, minumlah sedikit demi sedikit. Dan jika kondisi memburuk, segera cari pertolongan dari petugas kesehatan,” tambahnya.
Tri juga menjelaskan bahwa demam yang muncul pada kasus tertentu dapat menjadi bagian dari respons alami tubuh ketika melawan infeksi.
Namun, kondisi yang memburuk tetap membutuhkan pemeriksaan tenaga kesehatan.
Dari Dapur hingga Ompreng, Semua Titik Harus Diawasi
Bagi Prof. Tri Wibawa, keamanan MBG tidak dapat dibebankan hanya kepada satu pihak.
Pengawasan harus dimulai dari pemilihan bahan makanan, penyimpanan, proses pengolahan, hingga distribusi.
“Setiap tahap proses dapat menjadi titik masuk bagi bakteri, virus, jamur, atau parasit penyebab keracunan. Karena itu, standar kebersihan harus diterapkan secara optimal,” tegasnya.
UGM sendiri sebelumnya juga menyoroti bahwa kasus keracunan MBG dapat berkaitan dengan persoalan proses penyiapan makanan dan lemahnya pengawasan kebersihan. Pada kasus Sleman dan Lebong pada 2025, pemeriksaan laboratorium menemukan E. coli, Clostridium sp., dan Staphylococcus pada sampel makanan maupun muntahan korban.
Artinya, persoalan keamanan MBG jauh lebih luas daripada sekadar memilih antara pedas dan tidak pedas.
Bahan baku harus aman. Dapur harus higienis. Pengolahan harus benar. Penyimpanan harus sesuai. Distribusi harus terkendali. Dan wadah yang bersentuhan dengan makanan juga harus memenuhi standar. (1)
Jangan Asal Percaya Tulisan “Stainless Steel”
Masyarakat juga perlu memahami bahwa tulisan “stainless steel” pada sebuah produk tidak otomatis berarti material tersebut memenuhi standar yang sama.
Dalam konteks wadah makanan, kualitas material perlu diverifikasi berdasarkan spesifikasi dan standar yang jelas.
Konten edukasi yang beredar di media sosial menyarankan masyarakat agar tidak hanya terpaku pada klaim penjual seperti “stainless steel” atau bahkan label “304”.
Tes sederhana memang dapat menjadi indikasi awal, tetapi hasilnya tidak dapat menggantikan pengujian material yang terstandar.
Untuk penggunaan pada makanan, terutama dalam program massal seperti MBG, verifikasi spesifikasi oleh pihak yang kompeten jauh lebih penting daripada sekadar mengandalkan tes rumahan.
Jangan Tunggu Anak Jadi Korban untuk Berbenah
Program MBG memiliki tujuan yang sangat baik: menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak Indonesia.
Karena itu, kualitas program tidak boleh hanya diukur dari berapa banyak porsi makanan yang berhasil dibagikan.
Ukuran keberhasilan juga harus mencakup pertanyaan yang lebih mendasar:
Apakah makanan tersebut aman?
Apakah bahan bakunya aman?
Apakah dapurnya memenuhi standar?
Apakah pekerjanya memahami keamanan pangan?
Apakah rantai distribusinya terkendali?
Dan apakah ompreng yang digunakan benar-benar aman untuk bersentuhan dengan makanan secara berulang?
Jangan sampai upaya memenuhi kebutuhan gizi justru dibayangi risiko keamanan pangan.
Pesan Penting: Pedas Bukan Musuh, Abal-Abal yang Harus Diwaspadai
Sambal bukanlah penyebab otomatis keracunan atau hilang ingatan.
Begitu pula stainless steel 201 tidak berarti setiap pengguna pasti mengalami gangguan kesehatan.
Yang harus dihindari adalah kesimpulan yang terlalu sederhana.
Bahaya dapat muncul ketika berbagai faktor bertemu: material berkualitas rendah, makanan asam atau asin, suhu tinggi, kontak dalam waktu lama, kebersihan buruk, serta pengawasan yang tidak memadai.
Karena itu, peringatan tentang ompreng MBG seharusnya tidak berhenti pada viralitas.
Harus ada audit material, pengawasan keamanan pangan, pemeriksaan laboratorium, transparansi spesifikasi wadah, serta edukasi bagi pengelola SPPG dan penerima manfaat.
Sebab, sebagaimana ditegaskan Prof. Tri Wibawa: (1)
“Kata kuncinya adalah menjaga mutu bahan dan proses, menaati standar kebersihan, dan segera bertindak tepat ketika gejala muncul,” pungkasnya.
Makanan bergizi memang penting. Tetapi bagi anak-anak Indonesia, makanan yang bergizi harus sekaligus aman, higienis, dan layak dikonsumsi. Sebab satu porsi MBG seharusnya menjadi investasi kesehatan, bukan sumber kekhawatiran baru.
Referensi:
- https://ugm.ac.id/id/berita/ungkap-penyebab-keracunan-mbg-pakar-ugm-beri-tips-cara-beri-pertolongan-pertama-keracunan-makanan/.
- https://afu.id/nasional/catat-43-ribu-korban-keracunan-tokoh-lintas-iman-dan-mbg-watch-tuntut-penghentian-program-makan-bergizi-gratis
- https://mui.or.id/baca/berita/nampan-mbg-terkontaminasi-lemak-babi-mengapa-bisa-haram-ini-titik-kritisnya-menurut-lppom
- https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-8657269/benarkah-keracunan-mbg-bisa-sebabkan-hilang-ingatan-ini-kata-dosen-kesehatan
Editor :M Amin