Bocah 6 Tahun Patah Tulang & Tidur Beralaskan Tikar, Dinsos Lotim Ungkap Sudah Turun Sebelum Viral!
Foto Suasana Saat Tim Dinsos Lotim Mengunjungi dan Melakukan Asesmen Kondisi Serta Berbagai Kebutuhan Hengky Kurniawan (6 tahun), Warga Desa Sekaroh Jerowaru, pada Jumat (18/9/2026); Foto Kondisi Hengky (Dok. Istimewa)
Dua Kakak Hengky Yang Telah Putus Sekolah Juga Menjadi Perhatian. Dinsos Lotim Merencanakan Fasilitasi Akses Pendidikan Bagi Keduanya
Sigap News NTB | Lotim — Kisah memilukan seorang bocah berusia enam tahun bernama Hengky Kurniawan, warga Dusun Pengoros Barat, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, menjadi perhatian publik setelah kisah kondisinya diunggah ke media sosial.
Pada Senin (21/9/2026), akun media sosial @senjajaya yang akrab disapa Ady mengunggah video yang memperlihatkan kondisi Hengky. Dalam unggahannya, disebutkan Hengky mengalami patah tulang pada bagian punggung sehingga kesulitan beristirahat secara normal.

Foto Kondisi Hengky Kurniawan (6 Tahun), Warga Desa Sekaroh Jerowaru, pada Jumat (18/9/2026) (Dok. Istimewa)
Kondisi tempat tinggalnya juga turut menjadi sorotan. Hengky disebut hanya bisa tidur dengan posisi miring karena selalu merasakan sakit pada bagian punggung. Bahkan, tempat tidur yang digunakan keluarga tersebut hanya beralaskan tikar.
“Adek Hengky hanya bisa tidur miring. Tidak bisa tidur dengan normal. Dikarenakan selalu merasakan sakit di punggungnya, kalau tidur normal. Tempat tidur pun hanya beralas tikar aja. Tidak punya kasur, semua kakaknya pun tidur pakai tikar saja,” tulis @senjajaya.
Dalam unggahan tersebut, Ady juga mengajak masyarakat yang ingin membantu untuk memberikan donasi melalui rekening yang dicantumkan atas nama Puspa Dewi Andriani.
Dari Media Sosial, Perhatian Publik Berdatangan
Unggahan tersebut kemudian memancing beragam respons dari warganet. Sejumlah pengguna media sosial mendorong agar bantuan terhadap Hengky tidak hanya dilakukan melalui donasi, tetapi juga mendapatkan perhatian dari pemerintah dan layanan kesehatan.
“Ujian kamu luar biasa dek. Coba dibantu dengan open donasi di kitabisa.com juga bang. Biar lebih banyak dan bisa ditangani sampai sembuh,” komentar akun @misslin02.
Komentar lainnya mempertanyakan kondisi sosial keluarga Hengky dan berharap pemerintah memberikan perhatian.
“Pemerintah setempat pada ke mana sih? Kok sampai ada rakyatnya susah begini gak ditolong??,” tulis akun @riskaimaniarputri.
Sementara akun @alfinarasma mempertanyakan kemungkinan pengobatan Hengky melalui skema jaminan kesehatan.
“Haloo kak, ini bisa gak sih dioperasi diurusi BPJS atau KIS gitu ???????????? sambil kita bantu-bantu donasi untuk pengobatan yukkk gaisss,” katanya.
Desakan agar perhatian juga diberikan oleh pemerintah provinsi turut muncul.
“Bapak gubernur NTB tolong bantu @gubernurNTB,” tulis @nia_ahda.
Di tengah berbagai komentar tersebut, sebagian warganet juga menyampaikan doa, agar Hengky mendapatkan kesembuhan.
“Dek semoga Allah berikan keajaiban kamu untuk sembuh yaa, aamiin,” harap akun @heny__ayntm.
Dinsos Lotim: Tim Sudah Turun Sebelum Kasus Viral
Merespons ramainya perhatian publik tersebut, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lombok Timur, Siti Aminah, S.Sos, memberikan penjelasan bahwa penanganan terhadap Hengky sebenarnya telah dilakukan sebelum video tersebut ramai diperbincangkan di media sosial.

Berdasarkan laporan Respon Kasus Dinas Sosial Lombok Timur, Tim Bidang Rehabilitasi Sosial yang dipimpin Subkoordinator Anak dan Lansia bersama Pendamping Rehsos telah mendatangi kediaman Hengky pada Jumat (18/9/2026), atau tiga hari sebelum unggahan tersebut muncul pada Senin (21/9/2026).
Kunjungan itu dilakukan untuk melakukan asesmen langsung terhadap kondisi Hengky dan keluarganya, sekaligus memetakan kebutuhan serta kemungkinan intervensi yang dapat diberikan.
Hengky Mengalami Patah Tulang Punggung dan Luka Bakar
Dari hasil asesmen, Hengky Kurniawan tercatat sebagai Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) kategori anak piatu.
Hengky mengalami patah tulang punggung setelah sekitar dua tahun lalu tertimpa galon berisi air yang penuh dari atas sepeda motor ketika hendak mengantarkan galon ke sawah.
Setelah kejadian tersebut, Hengky tidak langsung mendapatkan penanganan di rumah sakit. Keterbatasan ekonomi, tidak memiliki BPJS pada saat itu, serta jauhnya akses menuju fasilitas kesehatan menjadi alasan keluarga memilih pengobatan tradisional.
Persoalan kesehatan Hengky kemudian bertambah. Empat hari sebelum tim Dinsos melakukan asesmen, tangan kirinya mengalami luka bakar akibat terkena minyak goreng. Untuk luka tersebut, Hengky telah dibawa ke Puskesmas.
Meski mengalami kondisi kesehatan yang cukup berat, Hengky masih mampu melakukan aktivitas dasar secara mandiri, seperti buang air kecil dan buang air besar, mandi, mengenakan pakaian, serta makan dan minum.
Namun, kondisi psikososialnya dinilai belum stabil. Saat tim datang, Hengky terlihat ketakutan dan tidak banyak berbicara. Raut wajahnya juga menunjukkan bahwa ia tengah menahan rasa sakit.
Di Balik Kondisi Hengky, Ada Keluarga dengan Beban Ekonomi Berat
Hengky saat ini tinggal bersama ayahnya, Mahmut, dan tiga orang saudaranya. Ibunya meninggal dunia pada 2021 akibat penyakit kanker payudara.
Kondisi keluarga tersebut juga menggambarkan beratnya beban ekonomi yang mereka hadapi.
Ayah Hengky bekerja sebagai buruh harian lepas untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dua kakaknya, Hamdi yang berusia 15 tahun dan Suhandi yang berusia 14 tahun, juga terpaksa berhenti sekolah dan bekerja sebagai buruh harian lepas.
Sementara kakak ketiganya, Sapuden, saat ini duduk di kelas IV SD dan telah didaftarkan dalam program SRSD oleh Pendamping PKH.
Dalam asesmen Dinsos, diketahui pula bahwa Hamdi dan Suhandi sebelumnya pernah bersekolah di Yayasan Buak Ate Kembang Mate, Rumbuk. Keduanya berhenti sekolah ketika duduk di kelas I SMP dengan alasan kerap mengalami perundungan dari teman-temannya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, keluarga tersebut mengandalkan penghasilan sebagai buruh harian lepas.
Sudah Terdaftar BPJS PBI, Akses Kesehatan Tetap Menjadi Tantangan
Salah satu hal penting yang ditemukan dalam asesmen Dinsos adalah bahwa Hengky dan seluruh anggota keluarganya saat ini telah tercatat sebagai penerima BPJS Kesehatan Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari pemerintah.
Dengan demikian, persoalan yang dihadapi bukan semata-mata mengenai kepemilikan jaminan kesehatan, tetapi juga menyangkut akses terhadap fasilitas kesehatan yang cukup jauh dari tempat tinggal keluarga.
Dinsos mencatat keluarga Hengky masuk dalam Desil 3 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Kondisi tempat tinggal keluarga juga masih sangat sederhana. Mereka telah memiliki rumah sendiri dengan dinding batako, atap asbes, dan lantai semen. Rumah tersebut hanya memiliki satu kamar, menggunakan listrik 900 watt, serta belum memiliki kamar mandi.
Keluarga Tidak Hanya Membutuhkan Pengobatan
Hasil asesmen menunjukkan bahwa kebutuhan keluarga Hengky cukup kompleks. Persoalan yang dihadapi tidak berhenti pada kondisi kesehatan Hengky, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar, pendidikan, ekonomi, dan kelayakan tempat tinggal.
Keluarga berharap mendapatkan bantuan berupa kebutuhan hidup layak, nutrisi, perlengkapan kebersihan diri, kasur, selimut, lemari pakaian, pakaian harian anak, serta dukungan untuk memperoleh akses kesehatan.
Selain itu, keluarga juga berharap mendapatkan bantuan modal usaha berupa ternak kambing.
Harapan tersebut bukan tanpa alasan. Ayah Hengky sebelumnya pernah memiliki usaha beternak kambing. Namun, seluruh ternak tersebut telah dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Potensi tersebut kemudian menjadi salah satu pertimbangan dalam rencana intervensi sosial agar keluarga tidak hanya menerima bantuan untuk kebutuhan sesaat, tetapi juga memiliki peluang untuk membangun kembali sumber penghasilan.
Dinsos Siapkan Sejumlah Intervensi
Berdasarkan hasil asesmen, Dinsos Lombok Timur menyusun sejumlah rencana intervensi bagi Hengky dan keluarganya.
Intervensi tersebut meliputi fasilitasi akses kesehatan, pengusulan bantuan ATENSI berupa kebutuhan hidup layak, nutrisi, kasur tempat tidur, alat kebersihan diri, lemari pakaian anak, pakaian sehari-hari, serta bantuan modal usaha ternak kambing bagi orang tua Hengky.
Dua kakak Hengky yang telah putus sekolah juga menjadi perhatian. Dinsos merencanakan fasilitasi akses pendidikan bagi keduanya.
Selain itu, Dinsos juga akan melakukan advokasi kepada pemerintah desa terkait fasilitasi akses kesehatan bagi Hengky.
Sebagai tindak lanjut, bantuan ATENSI akan diusulkan kepada Sentra Paramita Mataram sesuai kebutuhan yang telah diidentifikasi dalam asesmen.
Respons Kasus Melibatkan Unsur Pendamping dan Masyarakat
Dalam kegiatan respon kasus pada Jumat (18/9/2026), Tim Dinsos Lotim tidak bekerja sendiri.
Kegiatan tersebut turut melibatkan PDP PKH Desa Pengoros, Kepala Wilayah Dusun Pengoros Barat, serta LSM Kasta NTB.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari upaya membangun penanganan yang lebih menyeluruh terhadap persoalan yang dialami Hengky dan keluarganya.
Viral Menjadi Pintu Perhatian, Asesmen Menjadi Dasar Penanganan
Ramainya kisah Hengky di media sosial pada akhirnya membuka ruang perhatian yang lebih luas dari masyarakat.
Namun, fakta dari laporan Dinsos Lombok Timur menunjukkan bahwa asesmen lapangan terhadap Hengky telah dilakukan tiga hari sebelum video tersebut diunggah dan menjadi perhatian publik.
Artinya, perhatian terhadap kondisi Hengky tidak semata-mata muncul setelah kasus tersebut viral. Tim Dinsos telah lebih dahulu turun untuk melihat kondisi secara langsung, mengidentifikasi kebutuhan, serta menyusun rencana intervensi.
Kini, tantangannya adalah memastikan hasil asesmen tersebut berlanjut menjadi penanganan konkret, terutama terkait akses kesehatan, kebutuhan dasar Hengky, pendidikan kedua kakaknya, hingga penguatan ekonomi keluarganya.
Di sisi lain, gelombang kepedulian masyarakat yang muncul melalui media sosial dapat menjadi energi tambahan untuk memastikan Hengky tidak menghadapi masa pemulihan seorang diri.
Bagi seorang anak berusia 6 tahun yang harus menjalani hari dengan kondisi kesehatan yang berat, bantuan bukan hanya tentang donasi. Lebih jauh dari itu, ada kebutuhan untuk mendapatkan layanan kesehatan, tempat tidur yang layak, nutrisi, rasa aman, pendidikan, dan kesempatan bagi keluarganya untuk kembali berdiri secara mandiri.
Editor :M Amin