Semarak Ramadhan: Santri Lapas Kelas IIB Selong Berjaya di Lomba Tahfidz Virtual
Foto Suasana Saat Lapas Selong Mengikuti Lomba Tahfidz Al-Qur’an Secara Virtual melalui Zoom Meeting pada Selasa (3/3/2026) (Humas Lapas Selong)
Humas Lapas Selong, Dedy Aryadi: “Kegiatan Ini Bertujuan Untuk Meningkatkan Pembinaan Kepribadian Santri Lapas Kelas IIB Selong, Khususnya Dalam Aspek Kerohanian Islam Selama Bulan Suci Ramadhan”
Sigap News NTB | Lotim — Dalam suasana Ramadhan yang khidmat, santri Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Selong tampil penuh percaya diri mengikuti Lomba Tahfidz Al-Qur’an yang digelar secara virtual melalui Zoom Meeting pada Selasa (3/3/2026) pukul 08.30 WITA. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Semarak Ramadhan yang diselenggarakan oleh Kanwil Ditjen PAS NTB dan dilaksanakan sebagai tindak lanjut Surat Kepala Kantor Wilayah Nomor: WP.21-PK.05.01-397 tanggal 19 Februari 2026.
Format & Pelaksanaan: Virtual namun Penuh Makna
Panitia menyelenggarakan lomba sesuai protokol teknis yang ditetapkan; para peserta dari Lapas Kelas IIB Selong mengikuti kategori yang telah ditentukan panitia. Meski dilakukan secara daring, pelaksanaan berjalan lancar berkat pendampingan dan pengawasan petugas. Seperti ditegaskan dalam keterangan resmi panitia, “meski dilaksanakan secara virtual, kegiatan berlangsung dengan tertib, aman, dan lancar.” Penggunaan platform Zoom memungkinkan santri tetap menunjukkan kualitas bacaan dan hafalan tanpa mengurangi khidmatnya acara.
Tujuan Pembinaan: Memperkaya Kepribadian dan Kerohanian
Kegiatan ini bukan sekadar lomba, melainkan bagian dari strategi pembinaan. Dalam keterangan resmi Humas Lapas Selong disebutkan,
“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pembinaan kepribadian santri Lapas Kelas IIB Selong, khususnya dalam aspek kerohanian Islam selama bulan suci Ramadhan,” menurut Dedy Aryadi, Humas Lapas Selong.
Dengan fokus pada penguatan spiritual, program ini menegaskan bahwa pembinaan pemasyarakatan memadukan aspek teknis dan nilai-nilai keagamaan untuk membentuk karakter yang lebih matang.
Suasana, Pengawasan, dan Ketertiban
Rangkaian acara berlangsung di bawah pengawasan petugas lapas yang memastikan keamanan dan ketertiban, baik dari sisi teknis (koneksi, penjadwalan) maupun disiplin peserta. Pendamping dan petugas bertugas menjaga suasana agar tetap kondusif, sehingga setiap santri dapat tampil optimal. Kehadiran petugas ini menjadi jaminan bahwa kegiatan religius dapat berjalan selaras dengan aturan pemasyarakatan.
Dukungan terhadap Program Pembinaan Berkelanjutan
Keikutsertaan santri Lapas Kelas IIB Selong dalam lomba tahfidz ini dinilai sebagai bentuk kongkret dukungan terhadap program pembinaan yang berkelanjutan di lingkungan pemasyarakatan. Dokumen acara menegaskan,
“Keikutsertaan santri Lapas Kelas IIB Selong dalam lomba tahfidz ini merupakan bentuk dukungan terhadap program pembinaan yang berkelanjutan di lingkungan Pemasyarakatan,” kata Humas Lapas Selong dalam rilisnya.
Program berkelanjutan itu diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga memperkuat mental dan spiritual peserta selama menjalani masa pembinaan.
Harapan: Nilai Religius sebagai Modal Reintegrasi
Penyelenggara berharap bahwa pengalaman dan nilai yang dipupuk selama kegiatan ini menjadi bekal positif bagi santri ketika nanti kembali ke masyarakat. Dalam catatan resmi kegiatan disebut pula:
“Melalui kegiatan Semarak Ramadhan ini, diharapkan nilai-nilai religius semakin tertanam dalam diri santri Lapas Kelas IIB Selong sehingga dapat menjadi bekal positif dalam proses reintegrasi sosial setelah menyelesaikan masa pidana,” tutup rilis Humas Lapas Selong.
Harapan itu menegaskan fungsi multidimensi program, yaitu mendidik, memberi harapan, dan menyiapkan jalan pulih sosial.
Penutup: Dari Selong, Gelora Iman Menggema
Lomba Tahfidz virtual di Lapas Kelas IIB Selong menegaskan bahwa pembinaan spiritual dapat dikembangkan fleksibel sesuai kondisi, yaitu dengan daring atau luring, tanpa mengurangi intensitas pendidikan ruhani. Para santri Lapas Selong tidak hanya berlomba dalam hafalan, tetapi juga berlomba menata diri: memperkuat iman, disiplin, dan kesiapan kembali ke masyarakat. Semarak Ramadhan ini menjadi contoh bagaimana kegiatan keagamaan di lingkungan pemasyarakatan mampu menginspirasi perubahan positif, dengan fantastis dalam makna, nyata dalam hasil.
Editor :M Amin