Sinergi Hebat UPTD DP3AKB Wanasaba dan Dapur MBG: Kolaborasi Nyata Tangani Stunting dan B3
Foto Struktur Satyagatra Sakinah DP3AKB Kecamatan Wanasaba yang Dipimpin oleh H. Lalu Mukhtar, S.Kep; Foto Sertifikat Terbaik II Nasional DP3AKB Kecamatan Wanasaba yang Diberikan oleh BKKBN RI pada 26 Juni 2024 (Dok. Pribadi)
LOMBOK TIMUR -- Upaya menurunkan angka stunting di Kecamatan Wanasaba kian menemukan harapan baru. UPTD DP3AKB Kecamatan Wanasaba kini menjalin sinergi intensif dengan Dapur MBG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi/SPPG) dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kolaborasi ini difokuskan pada kelompok rentan B3 (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita), untuk memastikan kebutuhan gizi mereka terpenuhi secara optimal.

Latar Belakang: Program MBG dan Visi Gizi Nasional
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diluncurkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) pada 6 Januari 2025 sebagai langkah strategis untuk membangun generasi Indonesia yang sehat dan produktif. Melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG, program ini memastikan kebutuhan gizi harian masyarakat terpenuhi. Yang mana dengan porsi sarapan menyumbang 20–25% dan makan siang 30–35% dari total kebutuhan gizi harian.
Program ini juga dirancang untuk menjangkau wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) dengan sasaran utama peserta didik, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Selain itu, MBG turut mendorong pemberdayaan ekonomi lokal, karena bahan pangan diperoleh langsung dari petani, nelayan, dan UMKM setempat.
Tujuan strategis BGN meliputi:
- Mewujudkan status gizi baik untuk generasi mendatang.
- Menurunkan angka kematian ibu dan anak melalui intervensi gizi.
- Meningkatkan partisipasi sekolah lewat ketersediaan gizi memadai.
- Mengurangi biaya pengobatan jangka panjang.
- Meningkatkan produktivitas nasional melalui SDM yang sehat.
Fakta Stunting: Ancaman Serius bagi Generasi Bangsa
Menurut WHO, sekitar 178 juta anak di bawah usia 5 tahun di dunia mengalami gangguan pertumbuhan akibat stunting. UNICEF mendefinisikan stunting sebagai kondisi anak dengan tinggi badan di bawah standar pertumbuhan WHO. Hal tersebut merupakan tanda dari kekurangan gizi kronis yang dialami sejak dalam kandungan.
Dampak stunting tidak hanya terlihat pada fisik, tetapi juga menghambat perkembangan otak, menurunkan kemampuan belajar, dan meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas di masa depan.
Faktor penyebab stunting meliputi:
- Kekurangan gizi dalam waktu lama.
- Masalah pertumbuhan sejak dalam kandungan.
- Asupan protein yang tidak memadai.
- Perubahan hormon akibat stres.
- Infeksi berulang di usia dini.
Ciri-ciri anak stunting:
- Tinggi badan lebih pendek dari rata-rata usianya.
- Proporsi tubuh normal tetapi tampak lebih kecil.
- Berat badan rendah.
- Pertumbuhan tulang terlambat.
Capaian dan Fokus DP3AKB Wanasaba
Kepala UPTD DP3AKB Kecamatan Wanasaba, H. Lalu Mukhtar, S.Kep, menyebut bahwa data Keluarga Risiko Stunting (KRS) di wilayahnya mencapai 703 keluarga, terdiri dari ibu hamil, calon pengantin, ibu menyusui, dan balita. Fokus utama diarahkan pada ibu hamil dan ibu menyusui hingga anak berusia dua tahun.

“Data kami menunjukkan 703 keluarga yang benar-benar membutuhkan bantuan gizi di Kecamatan Wanasaba. Mereka terdiri dari ibu hamil anemia, ibu dengan Kurang Energi Kronis (KEK), dan keluarga balita gizi kurang. Karena itu, kami bersyukur hadirnya Program MBG ini akan sangat membantu,” ujar H. Lalu Mukhtar.
DP3AKB Kecamatan Wanasaba juga memiliki prestasi gemilang: Terbaik II Nasional dalam Penilaian Praktik Baik Satyagatra (Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera) oleh BKKBN RI pada 26 Juni 2024. Angka stunting di wilayah tersebut kini berada di 13,7%, sebuah prestasi membanggakan karena lebih baik dari target nasional yaitu KRS ≤14%.
Gerakan GENTING: Aksi Nyata dari Wanasaba
Lebih jauh, H. Lalu Mukhtar menjelaskan bahwa pihaknya telah menggagas Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) yang melibatkan banyak pihak, mulai dari dunia usaha hingga media.
“Kami mengajak pihak swasta, akademisi, wartawan, dan masyarakat luas untuk menjadi orang tua asuh bagi keluarga berisiko stunting. Melalui gerakan ini, kami ingin ada kontribusi nyata, meski kecil, dalam mencegah lahirnya anak-anak stunting baru,” ungkapnya.
Ia juga menuturkan bentuk dukungan yang sudah berjalan, salah satunya sumbangan Ikatan Istri Dewan (ISWARA) berupa ribuan butir telur pada Oktober lalu.
“Kami sangat berterima kasih atas kepedulian masyarakat. Dengan koordinasi yang terus berjalan, kami optimistis angka stunting di Wanasaba bisa terus ditekan,” imbuhnya.
Menurut Mukhtar, menangani stunting yang sudah terjadi memang sulit, karena pertumbuhan tinggi badan anak tidak mudah diperbaiki. Oleh karena itu, ia menekankan pergeseran strategi dari penanganan menjadi pencegahan, dengan fokus menjaga kesehatan ibu hamil agar bayi lahir sehat dan tumbuh optimal.
“Yang penting sekarang adalah mencegah lahirnya generasi stunting baru. Kita harus memastikan ibu-ibu hamil dalam kondisi sehat dan cukup gizi,” tegasnya.
Komitmen Dapur MBG: Sinergi untuk Gizi Seimbang
Sementara itu, Koordinator Dapur MBG Kecamatan Wanasaba, Alri Sanjaya, S.Ak, menegaskan kesiapan pihaknya untuk memperkuat kerjasama dengan DP3AKB dalam memastikan penerima manfaat kategori B3 (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita) benar-benar mendapatkan prioritas.
“Kami siap berkoordinasi dengan semua dapur MBG di Kecamatan Wanasaba agar penerima manfaat dari kelompok B3 dapat diprioritaskan. Tujuan kami sama: memastikan asupan gizi tercukupi dan angka stunting bisa ditekan,” ujar Alri Sanjaya.
Ia juga menyampaikan bahwa pertemuan koordinasi lintas dapur MBG akan segera digelar, dengan agenda utama menyelaraskan data penerima manfaat B3 dan memperkuat distribusi gizi berbasis kebutuhan lokal.
Strategi Bersama: Dari Koordinasi ke Aksi
Sinergi antara UPTD DP3AKB Wanasaba dan Dapur MBG dituangkan dalam langkah-langkah konkret:
- Integrasi data penerima manfaat B3 dalam sistem MBG.
- Koordinasi intensif antara seluruh dapur MBG di kecamatan.
- Pelibatan multisektor: swasta, BUMN, akademisi, dan masyarakat.
- Pemanfaatan sumber lokal dari petani dan nelayan sekitar.
- Fokus pencegahan stunting melalui edukasi dan kesehatan ibu hamil.
- Intervensi sensitif seperti sanitasi, air bersih, dan jamban sehat.
Harapan dan Tantangan
Sinergi lintas sektor ini menjadi harapan baru dalam menekan angka stunting di Lombok Timur. Dukungan masyarakat, lembaga, dan dunia usaha menjadi fondasi kuat untuk keberhasilan program ini.
Namun, H. Lalu Mukhtar mengingatkan bahwa perjuangan belum selesai.
“Menangani stunting tidak bisa instan. Ini pekerjaan jangka panjang yang memerlukan kesabaran, komitmen, dan kolaborasi. Tapi kami percaya, dengan sinergi yang kuat, Wanasaba bisa menjadi contoh bagi daerah lain,” pungkasnya.
Penutup: Dari Dapur untuk Masa Depan
Kolaborasi antara UPTD DP3AKB Wanasaba dan Dapur MBG menjadi bukti bahwa solusi terhadap stunting bukan hanya persoalan makanan, tetapi juga kemauan bersama untuk menanam harapan. Dari dapur yang penuh dedikasi lahir generasi yang bergizi, sehat, dan tangguh. Hal ini merupakan fondasi kuat untuk masa depan Wanasaba dalam mewujudkan visi-misi Bupati Drs. H. Haerul Warisin, M.Si dan Wabup Ir. Moh. Edwin Hadiwijaya, MM untuk Lombok Timur SMART (Sejahtera, Maju, Adil, Responsif dan Transparan).
Editor :M Amin