MUSDA II NWDI Lotim Tetapkan TGH Sholah sebagai Ketua, Konsolidasi 21 Kecamatan Jadi Prioritas
Foto Bersama Panita MUSDA II PD NWDI Lotim dan Ketua Terpilih DR. TGH. Sholah Sukarnawadi, MA, Minggu (18/10/2026); Foto Ketua Pengurus Wilayah NWDI NTB, Dr. TGH. Najmul Akhyar, S.H., M.H (Dok. Pribadi)
Ketua PW NWDI NTB, Dr. TGH. Najmul Akhyar, S.H., M.H: “Yang Menjadi Pengurus Bukanlah Tempat Mencari Uang. Namun, Tempat Untuk Melakukan Pengabdian. Jadi Saya Ingin, Mari Jangan Kita Terlalu Konsen Ke Masalah Politik Ini Saat Ini, Karena Waktu Politik Masih Jauh. Sekarang Ini Kita Berhadapan Dengan Persoalan-Persoalan Internal Kita, Misalnya Dakwah”
SIGAP NEWS NTB | LOMBOK TIMUR – Musyawarah Daerah (MUSDA) II Pengurus Daerah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (PD NWDI) Kabupaten Lombok Timur Tahun 2026 menetapkan DR. TGH. Sholah Sukarnawadi, MA, sebagai Ketua PD NWDI Lombok Timur. Ia dinyatakan terpilih secara aklamasi setelah memperoleh 15 suara dari 22 kertas suara pengajuan bakal calon yang digunakan dalam proses pemilihan.
Kegiatan yang mengusung tema “Meneguhkan Khidmah & Solidaritas Organisasi, Menuju NWDI Lombok Timur yang Mandiri, Progresif & Berdampak Bagi Umat” tersebut berlangsung di Yayasan Tarbiyatul Islam (YTI) NWDI Wanasaba, Minggu (18/10/2026).

Dalam forum yang dihadiri unsur pimpinan organisasi dari 21 kecamatan dan pengurus periode sebelumnya itu, konsolidasi organisasi, penguatan pelayanan kepada masyarakat, pendataan lembaga pendidikan, serta penuntasan persoalan madrasah menjadi sejumlah agenda yang mengemuka.
Terpilihnya TGH. Sholah Sukarnawadi juga menandai dimulainya tanggung jawab baru bagi kepengurusan daerah untuk memperkuat struktur organisasi hingga tingkat cabang dan ranting.
TGH. Sholah Sukarnawadi Terpilih Aklamasi, H. M. Syamsul Luthfi Jadi Ketua Penasehat
Berdasarkan hasil pengajuan bakal calon Ketua PD NWDI Lombok Timur, DR. TGH. Sholah Sukarnawadi, MA, memperoleh 15 suara. Jumlah tersebut menjadikannya satu-satunya bakal calon yang memenuhi ambang minimal lima suara untuk ditetapkan sebagai calon ketua, sebagaimana disepakati peserta MUSDA II.
Dengan hasil tersebut, TGH. Sholah Sukarnawadi dinyatakan terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PD NWDI Lombok Timur.
Sementara itu, H. M. Syamsul Luthfi, SE memperoleh 19 suara untuk posisi Ketua Penasehat PD NWDI Lombok Timur.
Mengacu pada Pasal 4 mekanisme pemilihan dan penetapan pengurus daerah, calon harus berstatus sebagai anggota NWDI, memenuhi ketentuan organisasi, menyatakan kesediaan untuk dicalonkan, bersedia menerima dan menjalankan amanah organisasi, serta memenuhi persyaratan lain sesuai ketentuan organisasi atau keputusan MUSDA.
Adapun pemberi suara dalam MUSDA II tersebut terdiri atas ketua cabang NWDI dari 21 kecamatan di Lotim dan unsur PD NWDI Lotim periode sebelumnya.

TGH. Sholah: Amanah Ini Berat, Kepengurusan Harus Dibangun Bersama
Dalam sambutannya setelah terpilih, TGH. Sholah Sukarnawadi menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan organisasi bukan pekerjaan yang dapat dijalankan seorang diri.
“Saya mengucapkan terima kasih atas amanahnya yang lumayan berat ini,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa kemajuan organisasi tidak hanya bergantung pada sosok ketua, melainkan membutuhkan kerja sama seluruh unsur pengurus.
“Perlu saya ingatkan bahwasanya majunya organisasi kita ini tidak bertumpu pada ketuanya saja. Oleh sebab itu, mari bekerja sama,” katanya.
Menurutnya, pengelolaan organisasi harus mengedepankan kerja kolektif dan kolegial agar keputusan serta program yang dijalankan benar-benar menjadi tanggung jawab bersama.

Foto Ketua PD NWDI Lotim, DR. TGH. Sholah Sukarnawadi, MA (Tengah) Bersama H. Lalu Zaenul Hamdi, S.Pd (Pimpinan NWDI Wanasaba Sekaligus Anggota DPRD Provinsi NTB Dapil NTB 3 Fraksi Demokrat) & Hj. Baiq Ridwah, S.Pd (Calon Kades Wanasaba Periode 2026-2031), Minggu (18/10/2026) (Dok. Pribadi)
TGH. Sholah juga menyampaikan apresiasi terhadap kritik yang membangun dan menilai konsolidasi sebagai kebutuhan penting dalam menghadapi tantangan organisasi ke depan.
“Saya memohon maaf dan terima kasih atas kritikan yang membangun. Saya memahami bahwa konsolidasi sangat penting di tengah situasi saat ini,” ungkapnya.
Setelah susunan kepengurusan rampung, ia berencana mengunjungi 21 Pengurus Anak Cabang (PAC) NWDI di Lombok Timur untuk memperkuat koordinasi dan soliditas organisasi.
“Setelah kepengurusan rampung, kami akan kunjungi ke 21 Pengurus Anak Cabang, insyaallah saya akan turun untuk meningkatkan soliditas. Mari kita kompak untuk NWDI,” tegasnya.
Ketua Terpilih Siapkan Formatur dan Rapat Kerja
Dalam wawancara dengan Sigap News NTB, TGH. Sholah kembali menegaskan bahwa jabatan yang diterimanya merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Ia mengaku tidak memiliki niat awal untuk menjadi ketua. Namun, setelah ditetapkan melalui MUSDA, ia menyatakan siap menjalankan mandat organisasi dan meminta dukungan doa dari seluruh pihak.
“Ya, ini adalah amanah berat yang dipercayakan kepada saya. Mohon doanya semoga bisa menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Terkait visi, misi, dan program kerja, ia menjelaskan bahwa langkah awal yang akan ditempuh adalah mengumpulkan seluruh anggota tim formatur untuk membahas komposisi kepengurusan.
Setelah itu, agenda rapat kerja akan menjadi ruang pembahasan bersama untuk merumuskan program prioritas PD NWDI Lombok Timur.
Ia juga menyoroti pentingnya melengkapi pendataan anggota, pondok pesantren yang berafiliasi dengan NWDI, serta para tuan guru. Pendataan tersebut, menurutnya, telah dilakukan sejak sebelumnya dan akan dilanjutkan agar semakin lengkap.
“Insyaallah kita akan semaksimal mungkin supaya terkumpul semua data itu, anggota PD NWDI dan data pengurus pondok yang berafiliasi PD NWDI, semuanya,” katanya.
Pendataan tersebut diharapkan menjadi dasar bagi organisasi untuk memetakan potensi, kebutuhan, serta bentuk pelayanan yang dapat diberikan kepada anggota dan masyarakat.
Najmul Akhyar: Pengurus Harus Hadir Menyelesaikan Persoalan Umat
Ketua Pengurus Wilayah NWDI NTB, Dr. TGH. Najmul Akhyar, S.H., M.H, dalam sambutannya menekankan bahwa khidmah harus dimaknai sebagai pelayanan nyata kepada masyarakat, bukan sekadar aktivitas struktural organisasi.

Ia menyebut sejumlah persoalan yang membutuhkan perhatian pengurus daerah, mulai dari penyelesaian status tanah madrasah, wakaf yang belum tuntas, hingga perubahan legalitas nama lembaga dari NW menjadi NWDI.
Menurutnya, perubahan nama tersebut merupakan kebutuhan organisatoris yang perlu ditindaklanjuti agar identitas lembaga sesuai dengan afiliasi organisasi saat ini.
Ia memperkirakan biaya pengurusan perubahan nama dapat mencapai Rp3 juta hingga Rp4 juta, sehingga diperlukan koordinasi dan upaya untuk mempermudah proses administrasinya.
“Yang menjadi pengurus bukanlah tempat mencari uang. Namun, tempat untuk melakukan pengabdian,” tegas Najmul Akhyar.
Ia juga mengingatkan bahwa Lombok Timur dikenal sebagai daerah dengan tradisi organisasi yang kuat. Namun, kondisi tersebut harus diimbangi dengan kemampuan pengurus dalam menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.
Bagi TGH. Najmul Akhyar, keberhasilan pengurus daerah tidak cukup diukur dari terbentuknya struktur kepengurusan. Organisasi harus mampu hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan pendidikan, pengelolaan wakaf, administrasi lembaga, hingga kebutuhan dakwah.
Konsolidasi Cabang dan Ranting Menjadi Agenda Awal
TGH. Najmul Akhyar menempatkan penguatan struktur organisasi sebagai salah satu pekerjaan mendesak bagi kepengurusan baru. Ia berharap pengurus daerah segera mendorong pembentukan kembali pengurus cabang dan ranting yang belum aktif atau belum terbentuk.
Menurutnya, struktur organisasi yang kuat akan memudahkan koordinasi program dan memastikan pelayanan kepada warga NWDI menjangkau berbagai wilayah di Lombok Timur.
“Jadi organisasi ini kita solidkan dulu. Misalnya pengurus cabangnya belum terbentuk, pengurus daerah mendorong terbentuknya pengurus cabang. Kemudian juga pengurus rantingnya, bahkan belum terbentuk, pengurus daerah yang mendorong,” jelasnya.
Ia juga menyoroti kebutuhan pengajian di madrasah-madrasah NWDI. Pengurus daerah diharapkan mampu mengoordinasikan kegiatan dakwah dengan melibatkan para tuan guru dan majelis dakwah, sehingga kebutuhan masyarakat tidak hanya bergantung pada undangan dari pihak luar daerah.
TGH. Najmul Akhyar berharap potensi sumber daya keagamaan yang dimiliki NWDI dapat dikelola lebih terarah melalui pendataan dan pembagian tugas yang jelas.
Bukan Hanya Politik, Pendidikan, Dakwah, dan Ekonomi Perlu Diperkuat
Dalam penjelasannya mengenai arah kepengurusan baru, TGH. Najmul Akhyar mengingatkan agar perhatian organisasi tidak terlalu terpusat pada politik praktis, terlebih agenda politik nasional 2029 masih cukup jauh.
Ia menilai masih banyak pekerjaan internal yang perlu diselesaikan, terutama dalam bidang pendidikan, dakwah, penguatan kelembagaan, dan pelayanan sosial.
Menurutnya, pengurus daerah memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan kondisi masyarakat. Sementara itu, pengurus wilayah menjalankan fungsi pembinaan, pengawasan, pelantikan, serta penyusunan ketentuan organisasi.
“Jadi saya ingin, mari jangan kita terlalu konsen ke masalah politik ini saat ini, karena waktu politik masih jauh. Sekarang ini kita berhadapan dengan persoalan-persoalan internal kita, misalnya dakwah,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemberdayaan ekonomi sebagai bagian dari pengabdian organisasi.
“Berdakwah lewat ekonomi adalah sesuatu yang luar biasa. Marilah tolong-menolong dalam rangka ekonomi,” katanya dalam sambutan MUSDA 2 PD NWDI Lotim.
Menurutnya, organisasi akan semakin dirasakan manfaatnya apabila mampu menghubungkan kekuatan pendidikan, dakwah, sosial, dan ekonomi untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Kartu Sakti NWDI dan Pendataan Lembaga Jadi Perhatian
Selain konsolidasi organisasi, TGH. Najmul Akhyar turut menyinggung program Kartu Sakti NWDI yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi warga organisasi.
Ia menyampaikan bahwa program tersebut telah mulai berjalan di Lombok Utara dan berharap penerapannya dapat berkembang sesuai kebutuhan masyarakat.
Namun, ia juga menekankan pentingnya pembenahan data organisasi, pondok pesantren, madrasah, dan tuan guru agar program yang direncanakan dapat berjalan lebih terarah.
Pendataan dinilai penting untuk mengetahui jumlah anggota, sebaran lembaga pendidikan, kebutuhan dakwah, serta potensi yang dapat dikembangkan bersama.
Harapannya, kepengurusan baru tidak hanya melakukan pembenahan administrasi, tetapi juga mampu menjadikan data tersebut sebagai dasar penyusunan program kerja yang terukur.
TGH. Hudatullah Muhibuddin Abbas Tekankan Ketaatan dan Arah Organisasi
Wakil Ketua Al Muhtasar PB NWDI, TGH. Hudatullah Muhibuddin Abbas, MA, dalam sambutannya menyoroti pentingnya ketaatan terhadap kepemimpinan organisasi dan konsistensi menjalankan garis perjuangan NWDI.

Ia menyampaikan pandangannya mengenai posisi TGB sebagai pemimpin organisasi serta pentingnya mengikuti arahan kepemimpinan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, dan politik.
Dalam sambutannya, ia menyatakan:
“Di hati kita tetap NW, hanya legalitas saja mengenai nama menjadi NWDI,” pesannya.
Ia juga menegaskan bahwa ketaatan kepada pemimpin harus tetap berada dalam batas-batas ajaran agama.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari penekanan mengenai pentingnya kesatuan arah dan disiplin organisasi dalam menjalankan program serta menghadapi tantangan ke depan.
Prof. H. Jamaludin: Jangan Biarkan Organisasi Tersandera Uang
Dalam sambutan penutupan, Prof. H. Jamaludin mengingatkan besarnya potensi NWDI di Nusa Tenggara Barat. Namun, ia menilai potensi tersebut harus diiringi komitmen anggota untuk menjaga nilai dan prinsip organisasi.
Ia mengkritik kecenderungan memilih pemimpin berdasarkan imbalan materi.
“NWDI adalah mayoritas paling besar di NTB. Akan tetapi, di hati terlalu cinta dunia, diberikan duit Rp100 ribu, maka orang tersebut dipilih,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat agar proses kepemimpinan organisasi tidak kehilangan orientasi pengabdian akibat kepentingan materi.
Ia juga menyinggung pentingnya pembagian peran dalam organisasi. Tidak semua anggota harus memikirkan seluruh persoalan secara bersamaan, tetapi setiap unsur perlu memahami tugas dan menjalankan tanggung jawabnya.
Menurutnya, kekuatan organisasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah anggota, melainkan juga oleh kesungguhan dalam menjaga nilai perjuangan dan menjalankan amanah.
Tantangan Kepengurusan Baru: Menjaga Warisan dan Menjawab Kebutuhan Masyarakat
MUSDA II PD NWDI Lombok Timur 2026 menjadi momentum untuk mempertemukan kembali komitmen organisasi dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Pesan yang disampaikan para pimpinan dalam forum tersebut menunjukkan sejumlah pekerjaan yang perlu mendapat perhatian: memperkuat struktur hingga tingkat ranting, menyelesaikan persoalan legalitas madrasah dan wakaf, melengkapi pendataan lembaga serta anggota, menghidupkan kegiatan dakwah, dan mengembangkan pemberdayaan ekonomi.
Bagi TGH. Sholah Sukarnawadi, pekerjaan tersebut akan menjadi tanggung jawab bersama setelah kepengurusan terbentuk dan program kerja dirumuskan.
Sementara itu, TGH. Najmul Akhyar berharap pengurus daerah benar-benar hadir di tengah masyarakat, bukan hanya ketika ada agenda organisasi, melainkan juga saat warga membutuhkan pelayanan dan pendampingan.
Dengan kepemimpinan baru, konsolidasi 21 kecamatan, serta rencana pembenahan data dan program kerja, PD NWDI Lombok Timur dihadapkan pada tuntutan untuk membuktikan bahwa khidmah bukan sebatas tema MUSDA, melainkan diwujudkan melalui kerja organisasi yang terarah, kolaboratif, dan berdampak bagi umat.

Foto Kegiatan MUSDA II PD NWDI Lotim di YTI NWDI Wanasaba, pada Minggu (18/10/2026)
Editor :M Amin