Anak Butuh Arah, Bukan Sekadar Akses di Era Digital
Foto Ketua DPC FRIC, Suwardi (Humas DPP FRIC)
Ketua DPC FRIC, Suwardi: "Nyatakan Pendampingan, Batasan, dan Komunikasi Jadi Kunci Menjaga Generasi Muda"
Sigap News NTB | Nasional — Di tengah derasnya arus transformasi digital yang kian tak terbendung, Ketua DPC Fast Respon Indonesia Center (FRIC) Cirebon Raya, Suwardi, mengingatkan bahwa anak-anak tidak cukup hanya dibekali perangkat dan akses internet. Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah kehadiran orang tua, pendidik, dan masyarakat dalam memberi arah, batasan, serta pendampingan yang tepat.
Di era ketika gawai, media sosial, dan berbagai platform digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, anak-anak memang tumbuh dalam dunia yang serba cepat dan terbuka. Namun, keterbukaan itu juga menyimpan tantangan besar. Tanpa bimbingan yang jelas, anak rentan terpapar konten yang tidak sesuai, kehilangan kontrol, hingga mengalami dampak psikologis maupun sosial.
Digital Bukan Ruang Bebas Tanpa Aturan
Suwardi menegaskan bahwa ruang digital bukanlah wilayah tanpa batas. Di dalamnya terdapat banyak peluang, tetapi juga menyimpan risiko yang harus diwaspadai bersama.
“Anak butuh batas, bukan sekadar akses. Kebebasan tanpa arahan di era digital justru dapat membawa dampak negatif. Di sinilah kehadiran kita sebagai orang tua, pendidik, dan masyarakat sangat dibutuhkan, bukan hanya memberi fasilitas, tetapi juga memberikan bimbingan,” ujar Suwardi pada Sabtu (18/4/2026).
Pernyataan itu menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak boleh berhenti di ruang kelas atau di rumah semata. Di dunia digital, anak memerlukan pendampingan yang hidup, responsif, dan berkelanjutan agar mereka mampu membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang berisiko.
Pendampingan Aktif Jadi Benteng Utama
Menurut Suwardi, komunikasi terbuka antara orang tua dan anak merupakan fondasi penting dalam membangun literasi digital yang sehat. Anak perlu merasa nyaman untuk bertanya, bercerita, dan meminta arahan ketika menemukan hal-hal yang membingungkan di internet.
Pendampingan aktif ini bukan berarti membatasi secara berlebihan, melainkan menuntun anak agar dapat menggunakan teknologi secara bijak, produktif, dan bertanggung jawab. Dengan pendekatan seperti itu, anak tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pribadi yang mampu berpikir kritis dan menjaga diri dari pengaruh negatif.
Membangun Ekosistem Digital yang Aman dan Edukatif
Lebih jauh, Suwardi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut menciptakan lingkungan digital yang aman, sehat, dan edukatif bagi generasi muda. Ia menilai, tanggung jawab ini tidak bisa dibebankan hanya kepada satu pihak, melainkan harus menjadi gerakan bersama.
Lingkungan yang kondusif akan membantu anak tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, dan memiliki orientasi yang baik dalam memanfaatkan teknologi. Sebaliknya, jika ruang digital dibiarkan tanpa kontrol dan pendampingan, maka risiko penyimpangan nilai dan perilaku akan semakin besar.
“Dengan arahan yang tepat, anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki karakter kuat dan mampu menghadapi tantangan zaman,” tambahnya.
Tunas Bangsa yang Harus Dijaga
Melalui semangat menjaga tunas bangsa, Suwardi berharap kesadaran kolektif masyarakat semakin menguat dalam mendampingi anak-anak menghadapi dunia digital. Baginya, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh bagaimana generasi muda hari ini dibimbing, dilindungi, dan diarahkan.
Pesan yang disampaikan Suwardi menjadi pengingat penting bahwa teknologi hanyalah alat. Di tangan yang tepat, ia menjadi sarana kemajuan. Namun tanpa arah, ia bisa berubah menjadi ancaman. Karena itu, anak-anak Indonesia harus dibekali bukan hanya akses, melainkan juga nilai, batas, dan bimbingan agar tumbuh aman, cerdas, serta siap menghadapi masa depan dengan bijak.
Editor :M Amin