Di Gendongan Ketua Bhayangkari Polres Lombok Utara, Bayi Kayangan Mendapat Pelukan Pertamanya
Foto Suasana Cinta Saat Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta Menggendong Bayi yang Ditemukan di Dusun Pangguh Barat, Desa Selengen, Kecamatan Kayangan, pada Kamis (8/1/2026) (Humas Polres KLU)
Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta: "Ny. Heny Agus Purwanta: “Anak Ini Bukan Hanya Menjadi Tanggung Jawab Satu Institusi, Tetapi Merupakan Tanggung Jawab Kita Semua”
Sigap News NTB | Lotim — Seorang bayi perempuan ditemukan di teras rumah warga di Dusun Pangguh Barat, Desa Selengen, Kecamatan Kayangan, pada Kamis (8/1/2026). Bayi yang diperkirakan berusia sekitar lima hari itu ditemukan dalam kondisi hidup, namun sangat rapuh. Ia memulai kehidupannya dalam sunyi, tanpa pelukan dan tanpa kata.
Namun di hari yang sama, bayi tersebut juga menerima sesuatu yang tak ternilai harganya: pelukan pertama yang penuh kasih dari Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta.
Bayi Kayangan dan Awal Kehidupan yang Sunyi
Penemuan bayi perempuan ini menggugah perhatian masyarakat sekitar. Ditemukan dalam kondisi memprihatinkan, bayi yang kemudian dikenal sebagai Bayi Kayangan tersebut langsung mendapatkan penanganan awal dari tenaga kesehatan.
Peristiwa ini bukan sekadar penemuan bayi, tetapi juga potret nyata tentang rapuhnya awal kehidupan dan pentingnya kehadiran kepedulian manusia.
Langkah Cepat Ketua Bhayangkari Menuju Puskesmas Kayangan
Mendapatkan informasi terkait penemuan bayi tersebut, Ny. Heny Agus Purwanta segera bergerak menuju Puskesmas Kayangan, bersama jajaran pengurus Bhayangkari Cabang Lombok Utara.
Di ruang perawatan sederhana, tanpa seremoni dan tanpa sorotan berlebihan, Ny. Heny menggendong bayi mungil itu cukup lama. Sebuah momen hening tercipta, ketika seorang ibu memeluk seorang anak yang baru saja mengenal dunia dengan cara yang tidak ramah.
“Setiap anak berhak dicintai, apa pun latar belakangnya,” ujar Ny. Heny, Jumat (9/1/2026).
Empati yang Dihadirkan dalam Tindakan Nyata
Dalam gendongannya, bayi tersebut tidak diperlakukan sebagai sekadar temuan atau kasus sosial, melainkan sebagai seorang anak yang utuh dan bermartabat. Ny. Heny juga membawa berbagai perlengkapan kebutuhan bayi, mulai dari pakaian, selimut, hingga perlengkapan dasar lainnya.
Baginya, kepedulian tidak boleh berhenti pada rasa iba semata, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
“Kita tidak pernah tahu seberapa panjang luka yang sudah ia bawa. Namun kita bisa memastikan, ia tidak perlu menambah luka baru,” katanya.
Negara Hadir Melalui Sinergi Lintas Lembaga
Kehadiran Ketua Bhayangkari menjadi simbol bahwa negara dan masyarakat tidak berpaling dari nasib bayi tersebut. Setelah mendapatkan perawatan awal di Puskesmas Kayangan, bayi itu kemudian diserahkan kepada Dinas Sosial serta Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Lombok Utara.
Selanjutnya, bayi dirujuk ke RSUP di Kota Mataram untuk mendapatkan perawatan medis lanjutan sesuai dengan kebutuhannya.
Ny. Heny menegaskan bahwa Bhayangkari akan terus mengawal aspek kemanusiaan dalam peristiwa ini.
“Anak ini bukan hanya menjadi tanggung jawab satu institusi, tetapi merupakan tanggung jawab kita semua,” tegasnya.
Pesan Kemanusiaan untuk Para Ibu dan Perempuan
Di balik peristiwa tersebut, Ny. Heny juga menyampaikan pesan moral yang mendalam kepada para perempuan dan para ibu, khususnya di Lombok Utara.
“Dalam kondisi apa pun, jangan pernah merasa sendirian. Selalu ada jalan dan selalu ada yang bisa membantu. Jangan pernah mengorbankan masa depan seorang anak,” ujarnya.
Pesan ini menjadi seruan kemanusiaan agar setiap persoalan dihadapi dengan keberanian untuk mencari pertolongan, bukan dengan mengorbankan masa depan anak.
Pelukan Pertama yang Menjadi Awal Harapan
Bayi kecil itu memulai hidupnya dari sebuah teras yang sunyi. Namun pada hari yang sama, di gendongan Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, ia juga memulai kehidupan dengan sesuatu yang jauh lebih bermakna: keyakinan bahwa ia tidak sendirian di dunia ini.
Editor :M Amin