Ekspedisi Patriot 2025: FGD Hasil Evaluasi Kawasan Transmigrasi Selaparang untuk RPJMD Lotim
Foto Suasana saat Focus Group Discussion (FGD) Pemaparan Hasil Evaluasi Kawasan, Analisis Komoditas Unggulan, dan Analisis Kelembagaan Ekonomi Kawasan Transmigrasi Selaparang, pada Selasa (2/12/2025) di Aula Bappeda Lotim (Dok. Pribadi)
Kawasan Transmigrasi Selaparang: "Prof. Dr. Ir. Dwi Rachmina, M.Si Ungkap Perlunya Infrastruktur yang Memadai, Rici Tri Harpin Pranata, M.Si Sampaikan Potensi Porang & Yudi Achmad Faisal, Ph.D Sampaikan Solusi Skema Kolaborasi Pentahelix"
Sigap News NTB | Lombok Timur — Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka Ekspedisi Patriot 2025 memaparkan hasil evaluasi kawasan, analisis komoditas unggulan, dan rancangan kelembagaan ekonomi untuk Kawasan Transmigrasi Selaparang (KTS). Kegiatan ini merupakan kolaborasi akademik dan pemerintah yang melibatkan IPB University, Universitas Padjadjaran, dan Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia. Acara ini digelar pada Selasa (2/12/2025) di Aula Bappeda Lotim, dengan tujuan memaparkan rekomendasi terukur yang siap menjadi masukan penting pada RPJMD Kabupaten Lombok Timur,
Inti Acara: Dari Evaluasi Menuju Rekomendasi Terukur
Ekspedisi Patriot 2025 memfokuskan kajiannya pada transformasi kawasan transmigrasi menjadi pusat ekonomi baru berbasis komoditas unggulan. Untuk Kawasan Transmigrasi Selaparang, tim kerja bekerja pada tiga keluaran utama: (1) evaluasi kondisi wilayah secara komprehensif; (2) desain pengembangan komoditas unggulan; dan (3) model kolaborasi kelembagaan ekonomi yang dapat menggerakkan agregasi dan pemasaran produk lokal. Hasil FGD ini dimaksudkan menjadi dasar kebijakan dan program prioritas yang dapat di-endorse oleh pemerintah daerah.
Profil Singkat Kawasan Transmigrasi Selaparang
- Luas: 20.275,49 hektar.
- Administrasi: 23 desa di tiga kecamatan yaitu Pringgabaya, Sambelia, dan Suela.
- Status (IPKT 2023): Berkembang.
- Populasi: 133.845 jiwa; sekitar 66% berusia di bawah 15 tahun.
- Aksesibilitas: ±67,9 km (±2 jam) ke ibu kota provinsi; ±15,7 km (±32 menit) ke ibu kota kabupaten; ±21,7 km (±46 menit) ke ibu kota kecamatan.
- Isu pertanahan: Terdapat 400 bidang Sertifikat Hak Milik (200 untuk rumah, 200 untuk lahan usaha) yang belum diterbitkan.
- Komoditas utama: padi, jagung, tembakau; sektor pendukung: perkebunan, perhutanan sosial, perikanan, dan pariwisata pesisir.
Data profil tersebut menjadi pijakan analisis tim dalam merumuskan zona pemanfaatan lahan, intervensi infrastruktur, dan prioritas program pembangunan ekonomi lokal.
Temuan Tim A: Kondisi Fisik, Sosial, dan Lingkungan
Tim A dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Dwi Rachmina, M.Si, dengan M. Aldrian Maulana T, SE (Koordinator) dan anggota yang terdiri dari Faiz M Abdurrahman, SE; Nelly Purnama S, S.M, M.Si; dan Ardina Rahmi Y, S.KPm.
Prof. Dwi menegaskan bahwa Selaparang memiliki potensi kuat untuk dikembangkan sebagai daerah pertanian dan wisata pesisir:
“Intinya kawasan Selaparang ini sangat cocok untuk wisata pertanian & pantai wisata,” ujarnya.
"Cara meningkatkan pendapatan masyarakat, yaitu dengan meningkatkan infrastruktur untuk pertanian", tambah Profesor ITB ini.
Tim A menyajikan kerangka evaluasi yang sistematis (fisik, sosial, ekonomi, kelembagaan, ekologi) menggunakan wawancara mendalam, survei, observasi lapang, FGD, dokumentasi, dan pemetaan spasial.
Temuan utama: selama 2015–2025 terlihat tren konversi lahan dengan ekspansi permukiman dan lahan pertanian meningkat,.Sementara belukar dan lahan terbuka menurun. Variasi elevasi (3 mdpl hingga 1.108 mdpl) membagi kawasan ke zona pemanfaatan: dataran pesisir rawan banjir; zona tengah cocok untuk pertanian lahan kering; perbukitan berfungsi sebagai daerah penyangga/tangkapan air tetapi rawan longsor. Pemetaan hidrologi mengidentifikasi DAS penting. Sehingga tim merekomendasikan pengelolaan tata air terpadu dan konservasi hulu untuk mitigasi bencana.
Temuan Tim B: Komoditas Unggulan: Jagung dan Peluang Porang
Tim B dipimpin oleh Rici Tri Harpin Pranata, M.Si dengan anggota yaitu: Bima Yeremia Hutahaean; Umi Nurul Fadilah, S.KPm; Yolanda Desi Anggraini; dan Lalu Aziz Al Azhari, S.T.P., M.T.
Analisis Tim B menempatkan jagung sebagai komoditas unggulan KTS (produksi >50 ribu ton per tahun). Namun menemukan kendala pasar: masa tanam yang padat, harga jual yang lemah, dan dominasi tengkulak yang melemahkan posisi tawar petani. Tim juga mendeteksi potensi porang yang tumbuh semi-liar di sejumlah desa. Hal ini merupakan sebuah peluang diversifikasi yang belum dimanfaatkan secara terstruktur.
Rici yang merupakan Alumnus program Master Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB tahun 2021 ini menegaskan bahwa:
“Porang merupakan rekomendasi yang kami sarankan, karena di beberapa desa porang tumbuh secara liar. Sehingga belum dimaksimalkan. Padahal IKM Porang sudah ada di Pringgabaya Lotim”
Rekomendasi Tim B menitikberatkan pada penguatan akses pasar, pembentukan kemitraan yang menjamin transaksi adil, dan mekanisme transparan yang diminta mitra dari Bogor untuk menjamin keberlanjutan kerja sama.
Temuan Tim C: Penguatan Kelembagaan Melalui BUMDes dan Gapoktan
“BUMDES dan Gapoktan belum terintegrasi dengan baik. Juga BUMDES KTS memiliki keterbatasan SDM, mengingat Ketua merangkap menjadi Sekretaris & Bendahara”, kata Yudi Achmad Faisal, Ph.D.
Ketua Tim C dipimpin oleh Yudi Achmad Faisal, Ph.D, akademisi sekaligus peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran yang mengkaji dan mengembangkan desain model kelembagaan ekonomi Kawasan Transmigrasi Selaparang Kabupaten Lombok Timur, NTB. Sedangkan anggotanya yaitu: Nusul Akbar, S.T.P; Qinthar Putma Cantari, S.Pt; Aulia Adistiani, S.Pt; dan Ashifa Aulia Putri.
Tim C menemukan banyak BUMDes yang sudah berbadan hukum, tetapi belum terintegrasi efektif dengan Gapoktan. Hambatan utama: keterbatasan SDM, tumpang tindih peran (ketua merangkap sekretaris & bendahara), ketergantungan pada Dana Desa, dan rendahnya kepercayaan publik. Yudi menyoroti pentingnya penataan peran, pelatihan manajerial, digitalisasi administrasi, dan skema kolaborasi pentahelix (pemerintah–akademia–swasta–masyarakat–media) untuk menggerakkan agregasi produk dan pemasaran.
Foto FGD Hasil Evaluasi Kawasan Transmigrasi Selaparang untuk RPJMD Lotim
Peran Disnakertrans Provinsi NTB
Pemateri: Dr. Nina Triana, SH., M.Si (Kabid Transmigrasi Provinsi NTB)
Dr. Nina memaparkan bahwa RPJMD Provinsi NTB 2025–2029 memuat program pembangunan yang relevan untuk desa-desa dalam dan luar kawasan transmigrasi, dan bahwa Selaparang tercatat sebagai kawasan penopang destinasi wisata dalam RPJMN. Hal ini membuka peluang integrasi antara pembangunan infrastruktur dan pengembangan pariwisata berkelanjutan. Pernyataan ini menguatkan probabilitas akses program pusat dan provinsi untuk intervensi cepat pada infrastruktur prioritas.
Rekomendasi Strategis & Program Prioritas (Ringkas dan Terukur)
Berdasarkan temuan ketiga tim, strategi prioritas yang dirumuskan meliputi:
- Perbaikan infrastruktur dan jaringan irigasi yang target indikatornya: jumlah jembatan & jalan usaha tani yang direhabilitasi; luas lahan yang teraliri irigasi.
- Penguatan kapasitas teknis pertanian dan perikanan malaui pelatihan, pendampingan agronomi, pengenalan budidaya porang terstruktur.
- Penguatan kelembagaan desa melalui sertifikasi peran, tata kelola BUMDes–Gapoktan, digitalisasi administrasi.
- Rehabilitasi lingkungan melalui konservasi hulu DAS dan penanganan kawasan rawan longsor.
- Penyediaan sarana produksi dan pascapanen seperti gudang, pengering jagung, mekanisasi ringan.
- Pengembangan IKM olahan yang dilakukan dengan diversifikasi produk olahan jagung, tembakau, porang; pembentukan sentra olahan berbasis BUMDes.
- Pengembangan pariwisata berbasis potensi lokal melalui paket agri-pesisir, homestay, dan rute wisata edukasi pertanian.
Setiap strategi dilengkapi indikator terukur (mis. jumlah sertifikat lahan yang terbit; volume produk yang dihimpun BUMDes) sehingga rekomendasi dapat dipantau dan diintegrasikan ke RPJMD Lotim serta program provinsi/centrally-supported quick wins.
Dari Rekomendasi ke Implementasi: Jalan Kerja dan Komitmen
Para peserta FGD sepakat bahwa potensi besar hanya bisa dikonversi menjadi manfaat nyata bila didukung kelembagaan yang kuat, akses pasar yang adil, dan sinergi antarpihak. Rencana tindak lanjut yang disepakati antara lain: pembentukan tim koordinasi lintas sektor, penyusunan rencana aksi 12–24 bulan yang memuat prioritas quick wins (irigasi, sertifikat lahan, mekanisme pasar), serta penjajakan pilot project pengembangan porang dan pusat pengolahan jagung berbasis BUMDes. Laporan hasil FGD akan dijadikan bahan masukan resmi pada RPJMD Kabupaten Lombok Timur dan untuk dialog lanjutan dengan mitra provinsi dan pusat.
Penutup: Harapan Nyata bagi Kawasan Transmigrasi Selaparang
FGD Ekspedisi Patriot 2025 di Selaparang menegaskan satu pesan pusat: potensi lokal besar, namun manfaatnya harus didukung oleh infrastruktur yang baik, kelembagaan yang kuat dan akses pasar yang adil. Dengan rekomendasi yang terukur, indikator yang jelas, dan komitmen lintas sektor, transformasi ekonomi Kawasan Transmigrasi Selaparang berpeluang menjadi contoh pengembangan transmigrasi yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada seluruh instansi dan peserta seperti: BPN Lotim; BPBD Lotim; Bagian Kerjasama Setda Lotim; Dinas Pertanian Lotim; Kepala Disnakertrans Lotim (H. Suroto, SKM, M.Kes); Sekretaris BAPPEDA Lotim (Edy Ilham, MH); Dinas Koperasi & UMKM; Dinas Dukcapil Lotim; Sekcam Suela (Muhasad); Dinas Sosial Lotim; Dinas Kelautan & Perikanan Lotim; serta perwakilan Disnakertrans Provinsi NTB, atas partisipasi aktif dan kontribusi data serta masukan yang menjadikan rekomendasi ini berbasis bukti dan siap ditindaklanjuti.
Editor :M Amin