SID Sebut 31 Ribu Ibu Hamil Ikuti Program SMART-MMS di Lombok, Kematian Bayi Baru Lahir Turun 18%
Foto Suasana Kegiatan SMART MMS oleh Summit Institute for Development (SID), pada Kamis (5/11/2026) di POSTU Desa Tembeng Putik (Dok. Pribadi)
Kepala Puskesmas Wanasaba, Budiman, S.KM, M.Kes: "Kami Sangat Bangga Dan Berterima Kasih Kepada SUMMIT Atas Kunjungannya. Karena Berhasil Mengedukasi Program Kesehatan, Khususnya Di Desa Tembeng Putik Yang Masih Kental Kepercayaannya Pada Pengobatan Spiritual"
Sigap News NTB | Lombok Timur — Summit Institute for Development (SID) bersama jajaran pelayanan kesehatan di Kabupaten Lombok Timur terus memperkuat upaya peningkatan kesehatan ibu dan bayi, melalui program SMART-MMS (Study on Adherence to Multiple Micronutrient Supplementation Among Pregnant Women Through Digitalization).
Komitmen tersebut terlihat dalam kegiatan pendokumentasian implementasi program SMART-MMS yang berlangsung di Pos Pelayanan Terpadu (POSTU) Tembeng Putik, Kecamatan Wanasaba, Kamis (5/11/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperlihatkan bagaimana inovasi suplementasi mikronutrien yang didukung teknologi digital menjangkau ibu hamil hingga tingkat desa.
Pendokumentasian tersebut melibatkan fotografer yang ditunjuk oleh Sight and Life, lembaga yang berkolaborasi dalam dokumentasi implementasi program. Fokusnya adalah melihat secara langsung pemanfaatan teknologi digital, keterlibatan tenaga kesehatan, serta partisipasi ibu hamil dalam memperoleh pelayanan kesehatan maternal.
Menariknya, Desa Tembeng Putik dipilih sebagai salah satu lokasi dokumentasi karena dinilai mampu merepresentasikan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat hingga wilayah akar rumput (grassroots).
SMART-MMS, Inovasi Kesehatan Ibu Hamil Berbasis Teknologi Digital
Program SMART-MMS merupakan bagian dari upaya SID mendukung implementasi kebijakan nasional pemberian Multiple Micronutrient Supplementation (MMS) bagi ibu hamil.
Program yang diluncurkan bersama Pemprov NTB pada 9 Agustus 2025 tersebut, mengintegrasikan pemberian suplemen mikronutrien dengan pendekatan digitalisasi dan pemantauan kepatuhan konsumsi.
Berbeda dengan tablet tambah darah konvensional yang umumnya mengandung zat besi dan asam folat, MMS memiliki kandungan sekitar 13–15 jenis mikronutrien, di antaranya zat besi, asam folat, vitamin A, vitamin B kompleks, vitamin C, vitamin D, vitamin E, seng, selenium, iodium, dan tembaga.
Kombinasi nutrisi tersebut ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi ibu selama kehamilan, sekaligus mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin.
Dalam pelaksanaannya, ibu hamil mendapatkan pendampingan melalui tenaga kesehatan, kader, serta Community Health Promoters (CHPs) SID. Pendekatan digital juga diterapkan melalui pengingat konsumsi suplemen menggunakan WhatsApp.
Berangkat dari Penelitian SUMMIT, Temuan Penurunan Kematian Bayi 18 Persen
Program SMART-MMS tidak terlepas dari perjalanan panjang penelitian SID di Pulau Lombok.
Selama lebih dari 20 tahun, SID telah berkontribusi dalam penelitian dan pengembangan kesehatan masyarakat, termasuk melalui penelitian SUMMIT (Supplementation with Multiple Micronutrients Intervention Trial) yang melibatkan lebih dari 31.000 ibu hamil.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pemberian MMS mampu menurunkan kematian bayi pada awal kehidupan sebesar 18%, dibandingkan dengan pemberian suplementasi zat besi dan asam folat (IFA).
Temuan ini menjadi salah satu kontribusi penting dalam pengembangan kebijakan suplementasi mikronutrien bagi ibu hamil, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Kini, melalui SMART-MMS, pendekatan tersebut dikembangkan dengan mengintegrasikan teknologi digital agar pemantauan konsumsi suplemen dapat dilakukan secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Rina Pertiwi: SMART-MMS Bukan Sekadar Pemberian Suplemen
Field Coordinator Lombok SID untuk wilayah Mataram, Lombok Timur, Lombok Barat, Lombok Utara, dan Lombok Tengah, Rina Pertiwi, S.KM, menjelaskan bahwa SMART-MMS bukan sekadar program pemberian suplemen, melainkan juga upaya membangun kesadaran dan kepatuhan ibu hamil terhadap kebutuhan nutrisi selama kehamilan.
Menurutnya, kebutuhan nutrisi ibu hamil tidak cukup hanya dipenuhi melalui satu atau dua jenis zat gizi.
"Kalau misalnya kita lihat atau kita bandingkan dengan MMS ini sendiri, itu ada 15 kandungan, termasuk di dalamnya zat besi. Jadi, kalau melihat kebutuhan, ibu hamil itu tidak hanya membutuhkan sedikit nutrisi, tetapi justru membutuhkan banyak multiple micronutrients," jelas Rina.
Ia juga menerangkan bahwa program SMART-MMS merupakan pengembangan dari pengalaman penelitian sebelumnya, dengan menghadirkan inovasi digitalisasi.
"Kalau dulu khusus untuk MMS-nya sendiri, nah yang sekarang ini kita inovasikan atau kita gabungkan dengan adanya digitalisasi," ungkapnya.
Salah satu bentuk inovasi tersebut adalah pengingat melalui WhatsApp yang dikirimkan setiap malam kepada ibu hamil, yang terdaftar dalam kelompok intervensi digital.
"Jadi, ibu-ibu yang memang terdaftar di bagian digital itu tetap kita berikan WhatsApp atau pengingat setiap malam untuk konsumsi dan sebagainya," terangnya.
Selain intervensi digital, SID juga menerapkan pendekatan standar melalui pemberian suplemen dan kunjungan rumah oleh tim lapangan yang bekerjasama dengan bidan.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memberikan edukasi, sekaligus memastikan ibu hamil mendapatkan pendampingan dalam mengonsumsi suplemen sesuai arahan tenaga kesehatan.
Capaian Lombok Timur, 3.729 Ibu Hamil Bergabung dalam Program
Dalam kesempatan tersebut, Rina mengungkapkan perkembangan capaian program SMART-MMS di sejumlah wilayah intervensi di Pulau Lombok.
Dari target sekitar 11.000 ibu hamil yang menjadi sasaran program, SID telah menjangkau hampir seluruh target tersebut. Hingga awal November 2026, tersisa sekitar 100 ibu hamil yang masih dalam proses dijangkau.
Khusus di Kabupaten Lombok Timur, tercatat sebanyak 3.729 ibu hamil telah bergabung sebagai penerima manfaat program SMART-MMS.
Capaian tersebut menjadi gambaran tingginya respons masyarakat terhadap program peningkatan kesehatan ibu dan bayi.
Rina menegaskan bahwa edukasi menjadi salah satu kunci utama keberhasilan program. Sebab, menurutnya, pemberian suplemen tidak akan optimal apabila ibu hamil belum memahami manfaat dan tujuan konsumsinya.
"Kita pastikan ibu-ibu tahu dulu sebenarnya manfaatnya. Terlepas dari apa pun jenis dan kandungannya, kalau mereka sendiri tidak paham, kita yakin tidak bakal diminum sebenarnya," tegasnya.
Karena itu, SID terus membangun koordinasi dengan pihak puskesmas, pemerintah desa, bidan, dan kader agar edukasi dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.
Tembeng Putik Dipilih, Representasikan Pelayanan Kesehatan hingga Akar Rumput
Pemilihan Desa Tembeng Putik sebagai lokasi pendokumentasian bukan tanpa alasan.
Rina menjelaskan bahwa SID ingin memperlihatkan kepada publik internasional, bahwa pelayanan kesehatan di Indonesia tidak hanya berlangsung di perkotaan atau fasilitas kesehatan besar, tetapi juga menjangkau masyarakat hingga wilayah paling bawah.
Menurutnya, pelayanan kesehatan harus mampu hadir di tengah masyarakat, baik di daerah yang mudah dijangkau maupun wilayah dengan tantangan akses.
"Yang mau kita perlihatkan ke media internasional khususnya adalah di Indonesia konteks pelayanan itu tidak hanya di puskesmas atau tidak hanya berada pada kota, tetapi juga sampai level yang benar-benar sulit dijangkau. Mereka tetap menjadi orang yang harus kita bantu atau orang yang harus kita perhatikan," ungkap Rina.
Selain faktor lokasi, tingginya antusiasme ibu hamil, dukungan kader, serta keterlibatan pemerintah desa dan Puskesmas Wanasaba juga menjadi pertimbangan penting.
Ia mengapresiasi sinergi seluruh pihak, yang dinilai telah memberikan dukungan positif terhadap pelaksanaan program.
"Dari kami tentu terima kasih banyak atas antusiasmenya selama ini, lalu bantuannya dari pihak desa. Karena kami yakin apa pun program yang sedang diinovasikan atau sedang diimplementasikan, jika dari pihak desa maupun pihak puskesmas tidak mendukung, maka akan sangat sulit," ujarnya.
"Namun, pada kegiatan di Desa Tembeng Putik ini, luar biasa sekali kinerja dan semangat kadernya. Kemudian pemerintah desa juga sangat mendukung. Pihak Puskesmas Wanasaba pun luar biasa mendukung atas kelancaran kegiatan ini," tambahnya.
Antusiasme Ibu Hamil Wanasaba Capai 99 Persen
Tingginya partisipasi masyarakat menjadi salah satu hal yang paling menarik perhatian, dalam pelaksanaan SMART-MMS di Lombok Timur.
Rina menyebutkan bahwa tingkat kehadiran peserta di wilayah Lombok Timur mencapai 99 persen, khususnya di Kecamatan Wanasaba.
"Lotim antusiasmenya sangat tinggi, bahkan tingkat kehadirannya mencapai 99 persen, khususnya Wanasaba. Ini sungguh luar biasa sekali. Dari jam 8 pagi sudah ramai sekali," tutup Rina.
Tingginya tingkat kehadiran tersebut memperlihatkan bahwa pendekatan edukasi dan pendampingan langsung memiliki peran penting, dalam membangun kepercayaan serta meningkatkan keterlibatan masyarakat terhadap program kesehatan ibu hamil.
Kapus Wanasaba Bangga, Edukasi Kesehatan Menjangkau Masyarakat
Kepala Puskesmas Wanasaba, Budiman, S.KM, M.Kes, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas kunjungan serta pelaksanaan pendokumentasian program SMART-MMS di wilayah kerjanya.
Ia menilai kehadiran SID menjadi bagian dari upaya memperkuat edukasi kesehatan masyarakat, terutama di Desa Tembeng Putik yang menurutnya masih memiliki kepercayaan kuat terhadap pengobatan spiritual.
"Kami sangat bangga dan berterima kasih kepada SUMMIT atas kunjungannya. Karena berhasil mengedukasi program kesehatan, khususnya di Desa Tembeng Putik yang masih kental kepercayaannya pada pengobatan spiritual," ungkap Kapus Budiman.
Apresiasi tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya pendekatan sosial dan edukasi yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat. Agar program kesehatan dapat diterima dan dijalankan secara optimal.
Kades Tembeng Putik Apresiasi Sinergi SID dan Puskesmas
Sementara itu, Kepala Desa Tembeng Putik, Drs. Fahmi, turut memberikan respons positif terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
Ia mengapresiasi kinerja tim Puskesmas Wanasaba dan SID, yang telah bersinergi dalam memberikan edukasi serta pendampingan kepada masyarakat, khususnya ibu hamil.
Kades Fahmi juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang telah menunjukkan partisipasi dan antusiasme, dalam mendukung pelaksanaan program SMART-MMS.
Menurutnya, keberhasilan program kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kesiapan tenaga kesehatan dan inovasi yang dibawa, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat sebagai penerima manfaat.
Dukungan pemerintah desa, kader, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menciptakan pelayanan kesehatan yang lebih dekat, responsif, dan berkelanjutan.
Kadus Tembeng Putik Timuk 1 Soroti Kebutuhan Fasilitas Pelayanan
Di balik keberhasilan pelaksanaan kegiatan, perhatian terhadap peningkatan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan POSTU juga menjadi aspirasi yang disampaikan kepada Pemda Lotim..
Kepala Dusun Tembeng Putik Timuk 1, Hammi, berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kelengkapan fasilitas pelayanan, termasuk pembangunan sarana pendukung yang masih belum tersedia.
"Kalau saya mohon kepada pemerintah daerah untuk melengkapi fasilitas ini, termasuk fasilitas definitifnya saat ini. Ya, terhadap segala macamnya, kami sangat mengharapkan demi pelayanan masyarakat," ujarnya.
Ia juga secara khusus menyoroti kondisi tembok halaman yang menurutnya belum tersedia.
"Jadi, mohon kepada Bapak-Ibu pimpinan Pemda Lotim untuk melengkapi sarana, apalagi tembok halaman Postu Tembeng Putik ini belum ada sama sekali," tambahnya.
Aspirasi tersebut menjadi catatan bahwa keberhasilan program kesehatan berbasis masyarakat perlu diimbangi dengan ketersediaan fasilitas pelayanan yang memadai. Agar masyarakat memperoleh layanan yang semakin nyaman dan berkualitas.
SMART-MMS dan Harapan Penguatan Kesehatan Ibu serta Generasi Mendatang
Pelaksanaan pendokumentasian SMART-MMS di Desa Tembeng Putik memperlihatkan bahwa, peningkatan kesehatan ibu dan bayi membutuhkan lebih dari sekadar ketersediaan suplemen.
Edukasi, teknologi digital, pendampingan tenaga kesehatan, keterlibatan kader, serta dukungan pemerintah desa merupakan unsur yang saling melengkapi dalam membangun keberhasilan program.
Dengan capaian 3.729 ibu hamil di Lombok Timur dan tingkat kehadiran yang mencapai 99% di wilayah Wanasaba, program ini menunjukkan respons positif masyarakat terhadap inovasi pelayanan kesehatan maternal.
Lebih dari itu, kehadiran SID hingga tingkat desa menjadi pengingat bahwa pemerataan pelayanan kesehatan harus menyentuh seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan akses.
Sebab, investasi terbaik bagi masa depan generasi bukan hanya dimulai ketika seorang anak dilahirkan, melainkan sejak kesehatan ibu dijaga, kebutuhan nutrisinya dipenuhi, dan setiap proses kehamilan mendapatkan perhatian yang layak.
Editor :M Amin

