47rb Bibit Kakao Siap Ditanam di Beririjarak, Potensi Ekonomi Diproyeksikan Tembus Rp 7,52M/ Bulan
Foto Suasana Rapat Koordinasi Antara Pemdes Beririjarak dengan Poktan Kakao Beririjarak Sejahtera, pada Selasa (6/10/2026) (Dok. Pribadi)
Pj. Kepala Desa Beririjarak, H. Lalu Muktar, S.Kep: "“Dari 100 Ha Yang Kami Ajukan, 47 Ha Telah Disetujui Oleh Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur, Dengan Bibitnya Akan Ditanam Pada Desember Saat Musim Hujan Sebanyak 47 Ribu Pohon. Bibit Unggul Ini Gratis, Dan Bahkan Biaya Pembuatan Lubangnya Gratis. Harapan Kami Yaitu Setelah Para Petani Memproduksi Kakao, Pemda Diharapkan Dapat Memfasilitasi Diversifikasi Kakao Menjadi Produk Seperti Coklat Bubuk. Sehingga Pemda Dapat Memberikan Bantuan Mesin Pengering Kakao Seperti Solar Dryer, Mesin Pembuatan Bubuk Kakao, Pelatihan, Bantuan Irigasi Pengairan Kebun Kakao Mengingat Pipa Yang Digunakan Hanya 1/2 Inc. Akibatnya Saat Musim Kemarau, Petani Jadi Berebut Air”
Sigap News NTB | Lotim — Kabar menggembirakan datang dari Desa Beririjarak, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur. Pemerintah Desa (Pemdes) Beririjarak mendapatkan persetujuan program pengembangan tanaman kakao dengan total 47 ribu bibit kakao unggul untuk ditanam di lahan seluas 47 hektare.
Program tersebut diharapkan menjadi momentum kebangkitan komoditas kakao sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan lahan perkebunan secara lebih produktif.
Kabar tersebut disampaikan Penjabat (Pj.) Kepala Desa Beririjarak, H. Lalu Muktar, S.Kep, saat ditemui di Kantor Desa Beririjarak, Selasa (6/10/2026).

Dari Usulan 100 Hektare, 47 Hektare Disetujui
Kades Lalu Muktar menjelaskan, sebelumnya Pemdes Beririjarak mengusulkan program penanaman kakao untuk lahan seluas 100 hektare. Dari usulan tersebut, sebanyak 47 hektare telah mendapatkan persetujuan dari Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur.
Penanaman 47 ribu bibit kakao tersebut direncanakan berlangsung pada Desember 2026, bertepatan dengan musim hujan sehingga diharapkan mendukung proses awal pertumbuhan tanaman.
“Dari 100 Ha yang kami ajukan, 47 Ha telah disetujui oleh Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur, dengan bibitnya akan ditanam pada Desember saat musim hujan sebanyak 47 ribu pohon. Bibit unggul ini gratis, dan bahkan biaya pembuatan lubangnya gratis,” kata H. Lalu Muktar.
Menurutnya, bantuan tersebut menjadi kesempatan penting bagi masyarakat Beririjarak untuk kembali mengembangkan komoditas kakao yang sebelumnya pernah menjadi salah satu tanaman perkebunan masyarakat.
Tak Berhenti pada Bibit, Pemdes Dorong Hilirisasi Kakao
Lalu Muktar menegaskan, pihak desa tidak ingin program tersebut berhenti sebatas pembagian bibit dan penanaman.
Setelah tanaman menghasilkan, Pemdes berharap pemerintah daerah ikut mendorong diversifikasi dan hilirisasi produk kakao, sehingga petani tidak hanya menjual hasil dalam bentuk biji mentah.
Salah satu produk yang diharapkan dapat dikembangkan adalah cokelat bubuk.
“Harapan kami yaitu setelah para petani memproduksi kakao, Pemda diharapkan dapat memfasilitasi diversifikasi kakao menjadi produk seperti coklat bubuk,” harapnya.
Untuk mendukung proses tersebut, Pemdes juga mengharapkan adanya bantuan sarana dan peningkatan kapasitas petani.
Di antaranya berupa mesin pengering kakao seperti Solar Dryer, mesin pembuatan bubuk kakao, pelatihan bagi petani, serta dukungan irigasi untuk pengairan kebun kakao.
Persoalan air, kata Kades H. Lalu Muktar, menjadi salah satu tantangan yang perlu segera mendapatkan perhatian, khususnya ketika musim kemarau.
“Sehingga Pemda dapat memberikan bantuan mesin pengering kakao seperti Solar Dryer, mesin pembuatan bubuk kakao, pelatihan, bantuan irigasi pengairan kebun kakao mengingat pipa yang digunakan hanya 1/2 Inc. Akibatnya saat musim kemarau, petani jadi berebut air,” tambahnya.
Dari Kakao yang Pernah Ditebang, Kini Ingin Dihidupkan Kembali
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Kakao Beririjarak Sejahtera, Deka Agustian, SP, mengungkapkan bahwa program tersebut merupakan hasil perjuangan kelompok tani yang telah dilakukan sejak sekitar satu tahun lalu.
Ia bersyukur karena pada tahun ini program tersebut akhirnya dapat direalisasikan.
“Kami sudah upayakan mendapatkan program ini sejak setahun lalu. Alhamdulillah tahun ini bisa dapat programnya,” kata Deka.
Menurut Deka, salah satu alasan utama pihaknya kembali menggalakkan tanaman kakao adalah karena komoditas tersebut pernah mengalami penurunan populasi di wilayah Beririjarak.
Ia menyebut, pada 2014 banyak tanaman kakao masyarakat ditebang. Kini, kelompok tani berupaya menghidupkan kembali komoditas tersebut. Hal ini dikarenakan memiliki prospek ekonomi yang dinilai cukup menjanjikan.
“Dulu pada 2014, banyak kakao ditebang maka kami ingin galakkan lagi, mengingat harganya bagus yaitu 50-150 RB/Kg kering,” sebutnya.
Tak Sekadar Dijual Kering, Petani Mulai Bidik Kakao Fermentasi
Untuk meningkatkan kualitas sekaligus nilai jual, petani kakao Beririjarak kini mulai mencoba memasarkan kakao dalam bentuk fermentasi.
Langkah tersebut diyakini dapat meningkatkan kualitas biji kakao sekaligus membuka peluang mendapatkan harga jual yang lebih tinggi dibandingkan kakao biasa.
Namun, proses fermentasi membutuhkan waktu dan ketelatenan. Deka menyebut prosesnya dapat berlangsung hingga sekitar enam hari.
“Cuman tahun ini, kita coba menjual kakao dalam bentuk fermentasi, untuk meningkatkan kualitas dan harganya lebih mahal, walaupun prosesnya agak panjang hingga 6 hari,” jelasnya.
Dengan demikian, program 47 ribu bibit kakao tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah tanaman, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi peningkatan kualitas produksi dan nilai tambah komoditas kakao.
Apresiasi untuk Pemkab Lombok Timur
Deka Agustian juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Lombok Timur yang telah memberikan kepercayaan kepada Pemdes Beririjarak melalui Dinas Pertanian.
Ia berharap bantuan tersebut benar-benar mampu memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Terima kasih kepada Bupati Lotim melalui Pak Kadis Pertanian Lotim yang diwakili Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Lotim, yang telah mempercayakan bibit kakao kepada Pemdes Beririjarak,” ujarnya.
Menurutnya, program tersebut menjadi peluang bagi Kelompok Tani Kakao Beririjarak Sejahtera untuk mengoptimalkan lahan perkebunan masyarakat yang selama ini belum memberikan hasil maksimal.
“Sehingga, Kelompok Tani Kakao Beririjarak Sejahtera dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melalui pemanfaatan lahan perkebunan yang belum maksimal hasilnya,” tambahnya.
47 Ribu Pohon, Potensi Omzet Rp7,52 Miliar per Bulan
Optimisme semakin kuat ketika Deka memaparkan potensi produksi dari 47 ribu pohon kakao yang akan ditanam.
Dengan asumsi setiap pohon mampu menghasilkan rata-rata 2 kg kakao/ bulan dan harga rata-rata mencapai Rp 80 ribu/ kg, maka secara hitungan bruto potensi nilai produksi dari 47 ribu pohon tersebut mencapai Rp 7,52 miliar per bulan.
Perhitungannya berasal dari:
47.000 pohon × 2 Kg × Rp80.000 = Rp7,52 miliar per bulan.
Bahkan, menurut Deka, produktivitas tanaman dalam kondisi tertentu dapat mencapai 3,5 kilogram per pohon dalam sebulan.
“Potensi penghasilan petani kakao Beririjarak dari program ini yaitu per pohon bisa menghasilkan 2 Kg kakao/bulan dengan harga rata-rata yaitu Rp80 RB/Kg. Sehingga, 47 ribu pohon kakao yang ditanam, maka Poktan Kakao Beririjarak bisa menghasilkan Rp7,52 M/bulan. Terkadang bisa 3,5 Kg/pohon dalam sebulan,” tutup Deka Agustian dengan senyum optimisme.
Menanam Kakao, Menanam Harapan Baru
Program 47 ribu bibit kakao tersebut pada akhirnya bukan sekadar tentang jumlah bibit yang ditanam. Lebih jauh, program ini membawa harapan baru bagi masyarakat Beririjarak untuk membangun kembali sektor perkebunan berbasis komoditas unggulan.
Mulai dari bibit gratis, pembukaan lubang tanam gratis, peningkatan kualitas melalui fermentasi, hingga rencana hilirisasi menjadi produk olahan, seluruh rangkaian tersebut berpotensi membentuk ekosistem kakao yang lebih bernilai.
Jika produktivitas dapat dijaga, kualitas ditingkatkan, persoalan air teratasi, dan hilirisasi berhasil dikembangkan, maka kakao Beririjarak bukan hanya berpotensi menjadi sumber penghasilan petani, tetapi juga dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat desa di Lombok Timur.
Dari 47 hektare lahan, 47 ribu pohon kakao ditanam. Dari sana, masyarakat Beririjarak berharap tumbuh bukan hanya buah kakao, tetapi juga masa depan ekonomi baru bagi para petani.
Editor :M Amin