Tetebatu Siap Jadi Pilot Project Digitalisasi Pajak Dispar Lotim, Kades Minta Perbaikan Jalan Wisata
Foto Kondisi Terkini Jalan Utama Menuju Kawasan Tetebatu yang Membutuhkan Perhatian Pemkab Lotim & Foto Kades Tetebatu, Sabli (Dok. Pribadi)
Kades Tetebatu, Sabli: “Kami Berharap Kedepan, Saat Pembahasan Teknis Digitalisasi Pariwisata Di Tetebatu Dilakukan, Kami Juga Dilibatkan. Semua Pihak Harus Duduk Bersama Agar Pelaksanaan Program Berjalan Lancar”
Sigap News NTB | Lombok Timur — Desa Wisata Tetebatu di Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, terus memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi wisata unggulan nasional. Berjarak sekitar 50 Km atau 2 jam perjalanan dari Kota Mataram, desa yang berada di kaki Gunung Rinjani ini dikenal luas dengan julukan "Ubud-nya Lombok". Hal ini berkat panorama persawahan terasering, hutan tropis, air terjun, serta suasana pedesaan yang masih asri.
Tak hanya menjadi destinasi favorit wisatawan domestik dan mancanegara, Tetebatu juga pernah mewakili Indonesia pada ajang Best Tourism Village UNWTO, menjadikannya salah satu desa wisata berkelas dunia.
Miliki Beragam Daya Tarik Wisata
Desa Wisata Tetebatu menawarkan berbagai aktivitas yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan, di antaranya:
- Trekking dan Wisata Persawahan, menyusuri hamparan sawah terasering, perkebunan rempah-rempah, hingga jalur pedesaan dengan berjalan kaki maupun bersepeda.
- Wisata Air Terjun, seperti Air Terjun Sarang Walet dan Air Terjun Kokoq Duren yang bersumber langsung dari kawasan Gunung Rinjani.
- Monkey Forest, kawasan hutan tropis yang menjadi habitat monyet hitam khas Lombok.
- Akomodasi Beragam, mulai dari homestay, bungalow hingga resort bernuansa alam yang tersebar di kawasan wisata.
Kunjungan Wisatawan Terus Meningkat
Berdasarkan data Pemerintah Desa Tetebatu, jumlah kunjungan wisatawan sepanjang tahun 2025 mencapai 23.150 orang.
Selain itu, dua Tracking Organizer (TO) asal Tetebatu memperoleh kuota pendakian Gunung Sangkareang sebanyak enam pendaki per hari. Jalur ini menjadi pilihan wisatawan yang ingin menikmati panorama Gunung Rinjani, danau, gunung berapi, hingga pemandangan matahari terbit dan terbenam dari sisi Tetebatu.
Tak hanya itu, sekitar 37% wisatawan pendaki Gunung Rinjani tercatat menginap di Tetebatu selama tahun 2025. Tingginya angka tersebut didukung oleh sinergi yang baik antara pengelola wisata Tetebatu dengan pengelola kawasan wisata Kuta Mandalika.
Meski demikian, besarnya perputaran ekonomi sektor pariwisata tersebut dinilai belum mampu dioptimalkan menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), karena sistem pengelolaan dan pencatatan usaha wisata masih belum terintegrasi secara digital.
Kades Tetebatu Dukung Digitalisasi, Asal Infrastruktur Diperbaiki
Saat diwawancarai mengenai rencana Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Timur menjadikan Tetebatu sebagai pilot project digitalisasi manajemen pariwisata melalui aplikasi Guide Mi, Kepala Desa Tetebatu, Sabli, menyatakan pada prinsipnya mendukung program tersebut.
Namun, ia berharap Pemkab Lombok Timur terlebih dahulu menunjukkan komitmennya melalui pembangunan infrastruktur dasar, khususnya jalan menuju kawasan wisata.
"Tetebatu sebenarnya tidak pernah menolak aturan penarikan pajak oleh daerah. Hanya saja masyarakat belum merasakan manfaat nyata dari kebijakan pembangunan infrastruktur maupun dukungan terhadap kewirausahaan pariwisata dari pemda," ujarnya, Rabu (16/7/2026).
Kades Sabli mengungkapkan, para pelaku wisata bahkan sempat berencana memasang baliho serta mengecat lubang-lubang jalan menggunakan pilox warna-warni, sebagai bentuk protes dengan slogan 'Jalan Wisata Terindah di Lotim'.
Namun rencana tersebut berhasil ia batalkan.
"Saya menahan rencana itu dan mengumpulkan 103 pelaku wisata agar persoalan ini diselesaikan secara kekeluargaan. Saya juga menyampaikan kepada mereka bahwa jalan menuju Kawasan Tetebatu akan segera diperbaiki oleh Pemkab Lombok Timur," katanya.
Tiga Syarat Penerapan Guide Mi
Kades Sabli menyatakan Tetebatu siap menjadi percontohan digitalisasi pariwisata melalui aplikasi Guide Mi, dengan beberapa catatan yang diharapkan dapat dipenuhi pemerintah daerah, yakni:
- Biaya pengurusan izin HGB untuk pembangunan hotel, resort, penginapan maupun bungalow di Tetebatu dapat ditinjau kembali karena dinilai masih cukup tinggi. Menurutnya, tarif sekitar Rp 10 ribu/meter membuat sebagian pelaku usaha harus mengeluarkan biaya hingga sekitar Rp 10 juta, untuk satu pengurusan HGB.
- Sebanyak 41 pemandu wisata (guide) Tetebatu memperoleh pelatihan, sertifikasi profesi, serta identitas resmi (ID Card) yang dilengkapi barcode.
- Pemkab Lombok Timur memperbaiki jalan menuju kawasan wisata sepanjang sekitar 8 kilometer yang selama ini menjadi keluhan utama wisatawan.
Minta Pelaku Wisata Dilibatkan
Kades Sabli juga berharap seluruh pelaku wisata dilibatkan dalam pembahasan teknis penerapan digitalisasi pariwisata agar program dapat berjalan efektif.
"Kami berharap kedepan, saat pembahasan teknis digitalisasi pariwisata di Tetebatu dilakukan, kami juga dilibatkan. Semua pihak harus duduk bersama agar pelaksanaan program berjalan lancar," ungkapnya.
Pelaku Wisata: Jalan Rusak Rugikan Pariwisata
Hal senada disampaikan salah seorang pelaku wisata yang juga merupakan anggota Pantek Teja (Persatuan Akomodasi Tetebatu, Kembang Kuning, Tetebatu Selatan, dan Jeruk Manis).
Ia mengungkapkan bahwa kerusakan jalan menuju kawasan wisata telah menyebabkan sedikitnya 7 wisatawan mengalami kecelakaan hingga harus menjalani perawatan.
Menurutnya, pemerintah perlu segera memperbaiki akses jalan apabila ingin meningkatkan penerimaan pajak dari sektor pariwisata.
Ia juga menjelaskan bahwa Tetebatu memiliki sejarah panjang sebagai destinasi wisata internasional sejak masa kolonial Belanda.
"Kawasan Tetebatu merupakan salah satu destinasi wisata tertua di Lombok. Sejak zaman Belanda, masyarakat di sini sudah terbiasa berinteraksi dengan wisatawan asing, baik dari Belanda maupun Jepang. Karena itu Tetebatu dikenal luas hingga mancanegara secara turun-temurun," ujarnya.
Ia berharap pemerintah hadir tidak hanya melalui pembangunan infrastruktur, tetapi juga memberikan dukungan berupa promosi, pelatihan, peningkatan kapasitas manajemen usaha, hingga akses pembiayaan bagi pelaku usaha wisata.
"Kalau jalan sudah bagus, saya yakin tidak ada pelaku wisata yang menolak soal pajak. Pemerintah juga bisa membangun kerjasama pembiayaan melalui KUR atau investasi untuk membantu pembangunan homestay dan usaha wisata lainnya. Dengan begitu, kualitas pariwisata di empat desa kawasan Tetebatu bisa terus meningkat," pungkasnya.
Editor :M Amin