Kawal Kebangkitan Ksatria Sasak, Ketum NTB Makmur Mendunia Turun Langsung ke Arena Peresean Rumbuk
Foto Poster Road Show Peresean Makmur Mendunia di Lapangan Desa Rumbuk, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur, Sabtu (20/6/2026) (Dok. Istimewa)
Ahmad Maksum Saksikan Duel Panas Lintas Wilayah, dari Bentrokan Elang Merah hingga Adu Strategi Burik Tanak Malit vs Ijo Ramban Biak Loteng
Sigap News NTB | Lotim — Gelora kebangkitan budaya Sasak kembali menggema dari jantung Pulau Lombok. Ribuan pasang mata tumpah ruah memadati Lapangan Desa Rumbuk, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur, Sabtu (20/6/2026), untuk menyaksikan pertarungan para pepadu terbaik dalam ajang Road Show Peresean Makmur Mendunia.
Di tengah gemuruh sorak penonton dan dentuman semangat yang membakar arena, Ketua Forum NTB Makmur Mendunia, Ahmad Maksum Riadi, hadir langsung mengawal jalannya laga. Kehadirannya menjadi penegas bahwa peresean bukan sekadar tontonan adu ketangkasan, melainkan simbol martabat, keberanian, dan identitas budaya masyarakat Sasak.
Dalam kunjungan tersebut, Ahmad Maksum didampingi Juru Bicara sekaligus Humas Forum NTB Makmur Mendunia, Zulkifli Mustafa, yang akrab disapa Bang Jo.
Peresean Bukan Sekadar Tradisi, Tetapi Marwah Peradaban Sasak
Ajang di Rumbuk menjadi gambaran nyata bagaimana warisan leluhur terus hidup di tengah arus modernisasi. Peresean hadir bukan hanya sebagai seni bela diri tradisional, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan nilai-nilai keberanian, sportivitas, kehormatan, dan solidaritas sosial.
Bagi Forum NTB Makmur Mendunia, kebangkitan peresean memiliki makna strategis yang jauh lebih besar, yakni menjadikan budaya lokal sebagai kekuatan diplomasi yang mampu membawa nama NTB ke panggung nasional bahkan internasional.
Kehadiran Ahmad Maksum di arena menjadi simbol dukungan nyata terhadap misi besar tersebut.
Duet MC Meledakkan Atmosfer Arena
Atmosfer gelanggang berubah eksplosif berkat kepiawaian dua penggerak suasana: Amaq Mila Sebole-Bole dan Bung Supar.
Keduanya tidak hanya memandu jalannya pertandingan, tetapi juga sukses mengendalikan emosi massa melalui narasi khas yang penuh energi, humor, dan ketegangan.
Setiap seruan yang keluar dari mikrofon mereka seakan menjadi pemantik adrenalin, membuat ribuan penonton larut dalam gelombang euforia yang sulit dibendung.
Amaq Mila tampil sebagai magnet utama arena. Dengan gaya bicara khas, spontanitas tinggi, dan komentar-komentar tajam, ia menjelma sebagai nyawa yang menghidupkan setiap detik pertandingan.
Bentrokan Lintas Wilayah Sarat Gengsi
Dari tribun utama, Ahmad Maksum dan Bang Jo menyaksikan langsung duel-duel panas yang mempertemukan paguyuban-paguyuban terbaik lintas daerah.
Partai pembuka langsung menyajikan tensi tinggi saat aliansi Paguyuban Elang Merah bersama Kelabang Geni berhadapan dengan keganasan petarung Demung Lokon. Bentrokan berlangsung keras, cepat, dan penuh tekanan sejak awal ronde. Namun tensi belum mencapai puncaknya.
Ketegangan justru melonjak drastis ketika laga strategi mempertemukan Paguyuban Burik Tanak Malit dengan Paguyuban Ijo Ramban Biak dari Lombok Tengah.
Laga ini berubah menjadi pertarungan taktik yang menguras konsentrasi. Serangan demi serangan dibangun dengan kalkulasi matang, memaksa setiap pepadu menunjukkan kecerdasan membaca ritme lawan, bukan sekadar mengandalkan kekuatan fisik.
Sorak penonton pecah berkali-kali, menandai betapa intens duel yang tersaji di arena.
Pengamanan Ketat Jadi Kunci Sukses
Di balik sengitnya pertandingan, aspek keamanan menjadi fondasi penting yang memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan kondusif.
Jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia, khususnya Polsek Sakra, dinilai sigap membangun pengamanan berlapis bersama Tentara Nasional Indonesia, Satpol PP, serta Badan Keamanan Desa (BKD).
Langkah ini mendapat apresiasi langsung dari Ahmad Maksum.
“Hari ini kita menyaksikan perpaduan yang luar biasa. Tensi pertandingan sangat tinggi dan menegangkan, ditambah pembawaan MC yang mampu terus mengguncang arena. Namun karena pengamanan dari Polsek Sakra berjalan sangat baik, seluruh masyarakat bisa menikmati kebangkitan ksatria Sasak dengan aman dan nyaman,” ujar Ahmad Maksum.
Ia menegaskan, keamanan yang solid merupakan syarat mutlak agar event budaya besar dapat berlangsung sukses tanpa mengurangi esensi pertunjukan.
Diplomasi Budaya NTB Menuju Panggung Dunia
Gelaran Peresean Makmur Mendunia kini kian menegaskan posisinya sebagai lebih dari sekadar festival budaya. Ajang ini telah berkembang menjadi instrumen diplomasi budaya berskala besar yang memperkenalkan identitas Sasak kepada dunia luar.
Dukungan penuh dari Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin, serta Bank NTB Syariah menunjukkan bahwa kebangkitan budaya lokal kini menjadi agenda strategis pembangunan daerah.
Narasi besar yang sedang dibangun jelas: budaya bukan warisan yang hanya disimpan, melainkan aset yang harus dihidupkan, dipertontonkan, dan dipromosikan secara global.
Menanti Puncak Laga 22 Juni
Meski laga Sabtu ini telah menyajikan duel-duel kelas berat, panitia memastikan pertarungan sesungguhnya belum berakhir.
Menuju partai puncak pada Senin, 22 Juni 2026, deretan pepadu elite yang belum turun disebut siap menggebrak arena dengan intensitas yang lebih brutal, lebih taktis, dan lebih spektakuler.
Arena Peresean Rumbuk pun dipastikan masih akan menjadi pusat perhatian masyarakat Sasak dalam beberapa hari ke depan.
Di gelanggang inilah warisan leluhur tidak sekadar dikenang, tetapi dihidupkan kembali dengan darah, keringat, keberanian, dan kehormatan.
Ketika tongkat rotan kembali beradu dan tameng saling membentur, yang dipertaruhkan bukan hanya kemenangan, melainkan harga diri para ksatria Sasak.
Editor :M Amin