5 Mahasiswa Asal Masbagik Raih Gold Medal Bidang Pangan & Juara 3 Kompetisi Esai Universitas Udayana
Foto Bersama Tim Esai Ilmiah Asal Masbagik Setelah Berhasil Meraih Juara 1 Bidang Pangan (Gold Medal) Sekaligus Juara 3 Tingkat Nasional Kategori Keseluruhan Bidang di Universitas Udayana - Bali, Pada 7–8 November 2026 (Dok. Istimewa)
Ketua Tim Esai Ilmiah, Muhamad Dicky Subagia: "Kami Tidak Ingin Potensi Rumput Laut Hanya Berhenti Sebagai Komoditas Mentah Yang Dijual Keluar Daerah. Kami Ingin Ada Nilai Tambah, Ada Inovasi, Ada Industri, Dan Ada Kesejahteraan Yang Benar-Benar Dirasakan Masyarakat Pesisir"
Sigap News NTB | Lombok Timur — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan generasi muda asal Kabupaten Lombok Timur. Lima mahasiswa asal Kecamatan Masbagik sukses mengharumkan nama daerah setelah meraih Juara 1 Bidang Pangan (Gold Medal) sekaligus Juara 3 tingkat nasional kategori keseluruhan bidang dalam kompetisi esai ilmiah yang diselenggarakan Universitas Udayana, Bali, pada 7–8 November 2026.
Capaian tersebut bukan sekadar kemenangan dalam sebuah kompetisi akademik. Lebih dari itu, prestasi ini menjadi bukti bahwa anak-anak muda dari daerah memiliki kemampuan bersaing di tingkat nasional melalui gagasan, riset, kreativitas, dan inovasi yang berangkat dari potensi sumber daya alam daerahnya sendiri.
Menariknya, inovasi yang mengantarkan mereka ke podium juara nasional tersebut berangkat dari potensi rumput laut di Ekas, Kabupaten Lombok Timur, yang dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Lima Mahasiswa Masbagik, Satu Gagasan untuk Indonesia
Tim mahasiswa berprestasi tersebut diketuai oleh Muhamad Dicky Subagia, mahasiswa Universitas Mataram (Unram). Ia berkolaborasi dengan empat mahasiswa lainnya, yakni Aryanto Arbi, Alysa Meliana, dan Atmi Maulida yang juga berasal dari Universitas Mataram, serta Rezika Aulia dari Institut Kesehatan Yarsi Mataram.
Kolaborasi lintas perguruan tinggi ini menjadi salah satu kekuatan tim dalam mengembangkan gagasan inovatif yang mengangkat potensi sumber daya laut Lombok Timur.
Dengan membawa semangat mengembangkan potensi lokal melalui pendekatan ilmiah, kelima mahasiswa tersebut mampu menunjukkan bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang untuk melahirkan karya yang kompetitif dan mendapatkan pengakuan di tingkat nasional.
Singkirkan 124 Tim, Tembus Persaingan hingga Babak Final
Perjalanan menuju podium juara bukanlah perkara mudah. Kompetisi esai ilmiah Universitas Udayana 2026 tersebut diikuti oleh 124 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Seluruh peserta terlebih dahulu harus melewati tahapan seleksi karya secara daring. Dari proses seleksi yang berlangsung ketat tersebut, hanya 24 tim yang dinyatakan lolos ke babak semifinal.
Tim asal Masbagik ini berhasil melewati persaingan pada bidang pangan melalui presentasi pertama hingga memastikan satu tempat di babak final.
Pada tahap final, para peserta kembali berhadapan dengan gagasan-gagasan terbaik dari berbagai bidang yang diperlombakan, meliputi pangan, lingkungan, teknologi, pendidikan, pariwisata dan budaya, pertanian, hukum, sosial dan ekonomi, serta kesehatan.
Persaingan lintas bidang tersebut membuat kompetisi semakin menantang. Sebab, setiap tim tidak hanya dituntut memiliki gagasan yang inovatif, tetapi juga harus mampu mempertanggungjawabkan karya secara ilmiah serta menyampaikan manfaat dan peluang implementasinya.
Di tengah persaingan tersebut, tim mahasiswa asal Masbagik berhasil menunjukkan kualitasnya dengan meraih Gold Medal sebagai Juara 1 Bidang Pangan sekaligus menempati peringkat ketiga dalam klasifikasi keseluruhan bidang.
Rumput Laut Ekas, Potensi Lokal Menuju Inovasi Nasional
Salah satu hal yang membuat prestasi ini memiliki nilai lebih adalah gagasan yang diangkat tidak terlepas dari potensi sumber daya alam Lombok Timur.
Tim tersebut mengembangkan inovasi berbasis rumput laut dari kawasan Ekas, salah satu wilayah pesisir Lombok Timur yang memiliki potensi sumber daya kelautan.
Selama ini, rumput laut masih banyak dipasarkan dalam bentuk komoditas mentah. Padahal, jika dikembangkan melalui riset, teknologi pengolahan, dan inovasi produk, komoditas tersebut memiliki peluang untuk menghasilkan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi.
Berangkat dari kondisi tersebut, tim mahasiswa ini berupaya menghadirkan perspektif baru tentang bagaimana potensi rumput laut dapat dikembangkan menjadi sumber daya pangan yang memiliki nilai tambah.
Gagasan tersebut sekaligus membawa pesan penting bahwa pembangunan ekonomi pesisir tidak cukup hanya mengandalkan produksi dan penjualan bahan mentah. Diperlukan kreativitas, penguasaan teknologi, penguatan industri pengolahan, serta keterlibatan generasi muda untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih produktif.
Dicky: Kami Ingin Rumput Laut Tidak Hanya Dijual sebagai Komoditas Mentah
Ketua tim, Muhamad Dicky Subagia, mengungkapkan bahwa inovasi yang mereka kembangkan berangkat dari keinginan untuk meningkatkan nilai tambah potensi sumber daya lokal, khususnya rumput laut yang selama ini masih banyak dipasarkan sebagai komoditas mentah.
Menurutnya, potensi kelautan Lombok Timur harus mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat, terutama masyarakat pesisir yang selama ini menggantungkan kehidupan pada sektor kelautan.
"Kami tidak ingin potensi rumput laut hanya berhenti sebagai komoditas mentah yang dijual keluar daerah. Kami ingin ada nilai tambah, ada inovasi, ada industri, dan ada kesejahteraan yang benar-benar dirasakan masyarakat pesisir," ungkap Dicky.
Pernyataan tersebut mencerminkan orientasi inovasi yang tidak hanya berfokus pada penciptaan produk, tetapi juga pada bagaimana sebuah karya ilmiah dapat memberikan dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
Ia menegaskan, ukuran keberhasilan sebuah inovasi tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan menciptakan produk baru, melainkan juga sejauh mana produk tersebut dapat memberikan manfaat nyata.
"Karena bagi kami, keberhasilan inovasi bukan hanya ketika sebuah produk berhasil diciptakan, melainkan ketika produk tersebut mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," tambahnya.
Blue Food Revolution: Dari Laut Lombok Timur untuk Masa Depan
Lebih jauh, Dicky menyampaikan bahwa laut harus dipandang bukan hanya sebagai warisan alam yang perlu dijaga, tetapi juga sebagai sumber masa depan yang dapat dikembangkan melalui ilmu pengetahuan dan inovasi.
Semangat tersebut mereka rangkum dalam gagasan Blue Food Revolution, sebuah visi untuk mendorong pemanfaatan sumber daya pangan berbasis kelautan secara inovatif, produktif, dan berkelanjutan.
"Laut kita bukan hanya warisan alam, tetapi juga sumber masa depan. Dari Ekas, Lombok Timur, kami ingin membuktikan bahwa inovasi generasi muda dapat mengubah potensi lokal menjadi solusi nasional. Itulah semangat Blue Food Revolution," tutupnya.
Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa kekayaan laut Indonesia membutuhkan sentuhan inovasi agar tidak hanya menjadi sumber bahan baku, tetapi juga mampu melahirkan produk pangan, peluang usaha, lapangan pekerjaan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Prestasi Akademik yang Membawa Harapan bagi Ekonomi Pesisir
Keberhasilan lima mahasiswa asal Masbagik ini memberikan gambaran bahwa potensi daerah dapat menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya inovasi yang memiliki daya saing nasional.
Lombok Timur, khususnya kawasan pesisir Ekas, memiliki peluang besar untuk mengembangkan sektor kelautan melalui pendekatan riset dan hilirisasi. Namun, potensi tersebut membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, hingga masyarakat pesisir.
Kolaborasi antara dunia akademik dan sektor ekonomi produktif menjadi salah satu langkah penting agar gagasan yang lahir dari kompetisi ilmiah tidak berhenti sebagai karya di atas kertas.
Inovasi berbasis rumput laut tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan industri pangan berbasis sumber daya lokal sekaligus membuka ruang bagi keterlibatan generasi muda dalam pembangunan ekonomi biru (blue economy).
Pada akhirnya, prestasi ini bukan hanya tentang lima mahasiswa yang berhasil membawa pulang medali dari Bali. Ada pesan yang lebih besar di balik pencapaian tersebut: bahwa potensi Lombok Timur mampu berbicara di panggung nasional ketika dipadukan dengan ilmu pengetahuan, keberanian berinovasi, dan kepedulian terhadap masa depan masyarakat.
Dari Masbagik, melalui potensi laut Ekas, lima mahasiswa muda telah menunjukkan bahwa gagasan besar tidak harus lahir dari kota besar. Sebuah inovasi lokal pun dapat membawa nama daerah bersinar di tingkat nasional.
Editor :M Amin







